Rabu, 27 November 2013

Spesial

Ini sudah yang ketiga kali. Aku temui 15 yang sama ditahun yang berbeda. Presepsiku antara panjang dan pendek. Entahlah bersyukur saja.
15 yang lalu aku dengan mereka, tiup lilin lalu berharap segalanya jadi matahari. Utamaku masih
baik, entah aku entah semuanya. Mereka- mereka berucap bahagia, untuk aku yang semakin tua.
Terharu ketika orangtuaku sedikit lupa. Sampai hari ini. Hanya sedikit lupa. Mereka terlalu sibuk, tentu untuk masa depanku. Tak apa, langkah mereka doanya.
Untung ada mereka, ada yang ingat setidaknya.
Terimakasih, untuk doa dan yang begitu spesial

(ndi, arin, tiwi, udil, desi, asri, pipi dan kamu tian)


Minggu, 17 November 2013

iseng iseng disela tekpan nih :)

Walau sebenarnya menurutku mereka pandai bersembunyi
Saling berpaling jadi hitam kataku hal yang biasa sunyi
Bukan dekat kalau bicara lihat kepala , tapi Cornelius ajar cinta belajar dari wajah
Aku tahu tidak selalu keadaan baik buat semua, ada yang megerti dan cuma aku yang mengerti
Bukan aku angkat dagu tapi aku kadang yang mengerti, aku coba dengar aku coba beri solusi
Aku diajarkan tidak berpihak
Cobalah tahu wahai kupu
Semua baik, semua berhati
Bersama coba mengerti, mengerti banyak kupu


Kamis, 27 Juni 2013

Hantu Kaus Kaki

Dulu ibuku sering bilang kalau terkadang ada hal yang tidak bisa dilihat oleh mata. Bukan semcam menakuti atau apa katanya, tapi memamg kamu perlu percaya.Tak peduli orang bilang aku norak kalau harus percaya dengan hal semcam itu, aku percaya dan kalian harus percaya.  Hari ini, hari ulang tahunku yang ke 7, tak sabar tentunya. Gadis mungil mana yang benci hari ulang tahunnya, dimana kue besar, orang berkumpul untuk beri selamat dan juga kado mungil yang berlimpah. Aku suka itu ,tentunya kalian juga dan yang paling spesial adalah abangku pulang kali ini.
aku masih berlari kecil dikoridor rumahku, ganggu ibuku yang sedang persiapkan makan malam keluarga dan kejutan kecil untuk ulang tahunku. AKu tertawa kecil kegirangan. kemudian kusapa Ayahku yang sedang baca Koran dihalaman rumah, minum kopi jadi rutinitas andalannya ditambah dengan rokok putih kecil ditangan kanannya. Masih tak berubah. Ayahku perokok berat, sampai sekarang masih saja aku tak paham kenapa beliau begitu mencintai benda putih berasap itu, tapi tetap aku cinta Ayah. Kualihkan pandanganku kejendela mungil sebelah kananku, kulihat pria tinggi dan besar lalu tampan sedang berguling tidak karuan masih dengan celana pendek tidurnya dan kaus belel hitam. Abangku !!! itu abangku, sudah pulang ternyata. Sudah sekitar 4 tahun ia menetap di UK untuk timba ilmu dan ternyata pulang hari ini, rindu sekali rasanya. Aku tertawa terkikik dan berniat ganggu dia.
Sekilas aku lihat dengan mata bulatku, kupincingkan mata sampai memang kutemukan yang kucari. wajahnya yang tertumpuk bantal dan selimut kutemukan, Tampan sekali, masih dengan hidung mancung dan kulit putihnya alis tebal macam sinchan dan juga mata sipit serta pipi yang menggemaskan. Iseng saja kucubit pipi gembulnya.
“aaaaaaaarggghhhh” teriaknya
Abangku berteriak sampai terbangun dan aku hanya tertawa sambil berlari dikoridor rumah. Lucunya abangku. Abangku bangun lalu tersenyum.
salah satu favoritku ketika hari ulang tahunku adalah dekorasi rumah. selalu tampak cantik dan anggun setiap salah satu dari kami sekeluarga merayakan ulang tahun, dan khusus untukku disetiap perapian selalu ada kaus kaki mungil bertengger dan juga dekorasi warna putih disepanjang dinding ruangan . Aku suka kaus kaki dan segala macam hal berwarna putih, itulah kenapa keluargaku simpan barang mungil tersebut setiap hari bersejarahku. Satu persatu keluargaku datang, sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka. ada Emily anak seusiaku, lalu ada margareth gadis cantik seperti Barbie dengan wajah mirip sekali dengan kakakku, kemudian justin, magia, ania dan masih banyak lagi. Aku coba tersenyum untuk mereka satu persatu, aku senang kegirangan.
Tiba saatnya aku tiup lilin, sudah ada kue bulat dengan hiasan coklat dan gambar sepasang kaus kaki ditengahnya, lalu tertancap angka 7 sebagai symbol kalau ini ulang tahunku yang ke-7. Disamping kananku ada kakakku yang tampan dengan jas putih, dan disamping kiriku ada orang tuaku dengan balutan pakaian bernuansa putih, ibuku cantik dengan polesan makeup sederhana dibalut lipstick merah berkilau . bibir mungilnya terlihat jelas seperti permen anak kecil yang selalu aku beli diwarung sebrang rumah. Lalu ayahku semakin tampan dengan rambut putihnya yang semakin banyak dan juga kumis tebal, tapi ia tetap gagah dan aku semakin terpesona dengan ayahku.
“wusssshhhhhh” kami berempat tiup lilin itu bersamaan. Kulihat ibuku menangis, sepupuku juga. Kami berdoa bersama, menghadap fotoku ditengah perapian. Ulang tahunku  yang ke 7 dan tepat kepergianku selama 4 tahun. Aku masih ada bedanya tak terlihat, aku  hidup bersama keluargaku, selalu berlari seperti anak kecil masih jahil seperti dulu. Kulihat abangku, berdoa tertunduk dan aku dengar, katanya
“selamat ulang tahun adik mungil, aku merindukanmu, pasti sudah besar dan cantik, salam untuk kakek dan nenek ya, aku percaya kamu disurga dam terimakasih cubitan pipinya pagi hari, aku melihatmu”
Aku senyum, aku tahu. aku tertawa sambil cium pipi abangku, aku pergi ya abang.

Sejak awal aku sudah bilang terkadang ada hal yang tak bisa dilihat oleh mata, dan kalian harus percaya. aku percaya karena percaya  itu aku. 

CorneliusMengerti

Entah harus bersikap apa kali ini. Tuhan selalu  tak pernah beri penjelasan mengenai pemberiannya, untuk yang pertama kali, kedua bahkan kali ini yang ketiga. masih saja berkutat dengan ujung benang yang sampe sekarang tak temukan jarum bolong. Ingin sekali aku coba bicara pada Tuhan kalau aku ini tidak sekuat seperti biasanya, tak bisa selalu kuandalkan senyum dan gelak tawa seperti spongebob dengan cekikik atau Patrick yang anggap segala buruk itu jadi baik. Radarku sudah semakin lemah, tak pandai terima takdir mungkin kali ini. Lapang dadapun tampaknya sudah tak didengar oleh akal warasku, hanya terima murka tentang takdir atau kebodohanku semacamya.
Selamat pagi Alam. Selalu kuucapkan terimakasih kalau sampai saat ini aku masih sadar kalau pagi itu matahari dan malam itu bulan. kuning itu terang dan hitam itu gelap. warasku masih terima itu. Kadang aku keluhkan langit kenapa tidak secerah hari ini, aku cinta mereka yang pagi hari bicara kamu masih punya akal. Masih seputar kekesalanku pada alam. maaf barusan aku bilang cinta dan kemudian aku murka. memang itu keadaannya. Labil, klise tak tahulah itu. entah fatamorgana atau konotasi, hidupku sampai sekarang tak mengerti. apa itu adil, aku dibawah terus rasanya. sampai sekarang akar tak mengenal atas.
Cornelius tak sangka kalau gadis itu jadi sedikit gila. didengarnya cerita  mengenai lamunan pagi dibalkon bantu fikir. baru saja dia dengar kalau burung minta sayapnya jadi jemari. ketika di tanya mengapa mereka jawab mereka lelah terbang, mereka iri pada gadis itu yang jelas tahu jemari. lalu sigadis berjalan, sekitar entahlah sebisanya katanya. lalu gadis itu temui hantu kaus kaki, bertanya kenapa temui mati, hantunya jawab dia kelelahan. lalu temui lagi kakek janggut merah, ia sedang berjalan sempoyongan cari tempat teduh, didengar katanya ia juga kelelahan. Cornelius hanya mengangguk. Cornelius mengerti. 

Minggu, 24 Februari 2013

Dasar Sabtu Malam

Malam- malam jalan kesana
Sorot lampu kelap- kelip
sesak, kaya semut kelihatannya
Ramai kaya dipasar, tapi bukan pasar
hahahahhihihihi
Dasar Sabtu malam

Padat merayap, tadinya sepi padahal
Merah, kuning, hijau, silau
Paha ayam, dada kalkun berserakan
Bisik2 mendengung keras dipendengaran
Berisik sekali, bising
Dasar Sabtu malam

Bandung kapan sepi?
Beriak selalu penuh makhluk
cari sepi dimana
kehutan sana, temani pohon
gara2 Sabtu malam

Bandung hidup
Bandung punya nadi, kami nadinya

Panca Indra


Coba dengar
Fneuhjghffrugbsrjkghvfxvb
Percuma, telingaku masih saja kaku
Kulihat bibirmu bicara panjang lebar
Soal segitiga, jajar genjang, lingkaran
Tak jauh gelagatmu bicara
Aku coba dengar ko

Coba dengar lagi
Ngiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnng
Itu yang kudengar
Sepertinya sekarang mulai bicara tentang kubus, atau mungkin balok, atau bisa juga soal kerucut
Sudahlah menyerah sana
Baik, aku masih dengar ko, masis coba dengar

Mau dengar lagi
(hening)
Kamu tidak bicara lagi ya
Terlalu hening
Biasanya kudengar langit menggerutu
Kucoba benar mendengar

“aku dengar dari tadi, soal kubus, segitiga, balok dan segalanya
Kala telingaku dengung, hati ini masih coba jadi pengganti telinga
Gerutu langit diatas sana
Cornelius yang masih murka tentang panca indraku hehe
Maaf
Untuk yang baik yang dengar
Untuk yang mengerti panca indraku
Maaf, ternyata masih saja sulit
Indraku masih tak bisa kulampaui"

a glass of letter



Rabu, 06 Februari 2013

Kisah Sepupu Kecil II


Hari ini aku, adik dan ibuku memutuskan kembali ke Rumah Sakit. Kami dapat kabar kalau sekarang sepupuku sudah bisa diajak bicara. Sekalian kami igin lihat perkembangannya, kami juga membawakan sedikit makanan untuk om dan tanteku yang sudah seminggu ini tidak pulang kerumahnya. Pukul 15.30 WIB kijang biruku melaju kedaerah Sukajadi. Hari ini bandung diguyur hujan seharian, untungnya jalanan tidak begitu macet jadi aku bisa sampai lebih cepat.

Pukul 16.30 WIB kami sampai. Hari ini Rumah Sakit tidak begitu ramai, mungkin karena hujan mereka enggan keluar rumah untuk jenguk pasien. Sepupuku  kini dirawat diruang NCCU, bukan di ICU lagi., Letaknya lumayan jauh dari pintu masuk utama.  Butuh sekitar 10 menit untuk sampai keruangan itu. Tak lama, aku temukan tanteku yang sedang mengobrol dengan tamunya. Aku hanya salam dan kemudian duduk membiarkan tanteku melanjutkna pembicaraannya. Jadwal besuk hari itu dari pukul 16.00 – 17.30 WIB, masih banyak waktu. Ibuku masuk pertama.

Dipikiranku hanya terpikir bagaimana aku mulai pembicaraan, apa aku nangis nanti? Aku ini kan melankolis. Masih adakah alat pendeteksi denyut nadi? Aroma obat2 medik seperti di ICU. Ahhhh rumit. Tak lama omku keluar, lalu dia beri isyarat kalau giliranku masuk. Disana hanya ada sekitar 2 pasien, ditambah ada beberapa suster yang menunggui setiap ruangan sekitar 2 orang. Rungan NCCU didominasi oleh warna hijau daun, dan juga warna putih krem dari berbagai macam peralatan medis yang disimpan disana. Tak jauh dari pintu masuk kutemukan ruangan sepupuku. Kutemui sepupuku yang sedang berbaring sambil bicara dengan ibuku. Dengan ragu aku sapa sepupuku

“hai , ingat aku tidak?” sapaku, sambil kubiaran telapakku sentuh kulit kakinya
Dia hanya bengong melihat aku yang mungkin baru hari ini dilihatnya

“sebentar yaa sebentar” sambil melambaikan tangan dia memintaku untuk menunggu.
Kulihat dia seperti kelelahan dan menahan sakit. Matanya kadang terpejam dan kadang tidak. Aku tidak mengerti apa isyarat itu. Tak lama

“kamu siapa? “ tanyanya. Jujur saja ada yang lumer,  entah kenapa ada kekecewaan ketika dia juga tidak ingant aku sama sekali. Aku coba mengerti, bukan aku saja yang tidak diingatnya.

“ini teh vaya, ingat tidak?” ibuku bertanya

“iya ini aku, teeh vaya”
Sepupuku hanya menggeleng kepalanya.

“kalian sama? “ tanya sepupuku dengan polosnya .

“iya kita sama, teeh vaya ini ananya uwa dek”

Gadis mungil ini hanya menatapku dan mengangguk, mungkin ia coba ingat2 siapa aku ini. Sambil tersenyum ia tiba2 berkata.

“ ih lucu, kamu cantik sekali” dengan polos gadis mungil dihadapanku sambil tersenyum.

gadis yang sedang terbaring tak berdaya seperti ini sedang coba mengingatku dan sempat2nya dia bicara seperti itu.

“terimakasih ya” jawabku
tak lama sepupuku bicara lagi
“boleh pegang tangan? “ pintanya
Kuberikan tangan kananku supaya digenggamnya. Entah kenapa erat sekali, dan sepertinya tangannya bicara padaku
“kok dingin sih? Yang ini engga” sambil memindahkan tangannya ketangan ibuku

“iya diluar hujan, jadi aku kedinginan”

Dia hanya mengangguk. Lucu sekali, polos seperti aslinya. Kudengar cerita kalau dia sekarang suka jahili para suster dan kedua orang tuanya. Terakhir kali kejahilanya dengan berpura2 pingsan sampai para suster, om dan tanteku kaget bukan main. Dan tiba2 dia bangun sambil tertawa dan bicara kalau dia bohong. Sempat2nya dia seperti itu.

Entah dia kelelahan atau ngantuk, berulang kali dia selalu memejamkan mata dan diam seperti oranng tidur. Lalau beberapa menit kemudian dia bicarara kembali dengan kami dan para suster.
Kali ini dia tatap aku dan ibuku, sambil tersenyum seolah ingin bicara sesuatu.

“maafin aku ya, maafin aku”. Wajahnya begitu memelas, aku bisa mengerti. Dari matanya kulihat ia menangis

“maaf buat apa ade” kata ibuku

“iya gapapa de” sahutku

“maafin aku yaah maafin”

suasanya diruangan terasa berbeda, semacam terharu dan takut ketika sepupuku bicara semacam itu. Tak betah rasanya berdiam lama disana, bukan karena aku tak suka bertemu dengan sepupuku tapi karena memang jujur saja aku ingin menangis diluar.

“ de aku keluar dulu ya, cepet sembuh nanti kita main bareng lagi. Dadah”

kulambaikan tangan sambil bergegas keluar kamar
Dia hanya mengangguk dan tersenyum

Tuhan terimakasih, aku masih bisa bicara dengannya. Besok aku datang lagi, bicara dan coba ingat aku ya dek. 

Kisah Sepupu Kecil I


Sejak dulu aku tak begitu suka rumah sakit, aroma obat, gesekan roda dengan lantai yang membawa pasien jadi pemandangan kurang mengenakan buatku. Akhir2 ini kerjaanku hanya bulak balik kunjungi rumah sakit. Bukan aku yang  terbaring tentunya. Kalo bukan ada hubungannya dengan keluargaku mungkin tidak ingin kusempatkan bercengkrama dengan tempat itu. 

Hari ini  aku dan keluargaku memutuskan jenguk sepupu kecilku yang terbaring di RS. Sudah 3 hari ini dia terbaring tak sadarkan diri. Kudengar katanya pembuluh darah diotaknya pecah, bisa dibilang dia koma setelah serangan yang membuat otaknya tidak berfungsi secara normal kembali. Kupikir penyakit semacam itu hanya ada ditelevisi saja, ternyata kehidupan nyatapun memang ada. Sepupuku baru berusia 10 tahun kurang lebih. Anak pintar, banyak bicara dan juga lincah. Aku masih ingat beberapa minggu yang lagu dia baru saja kunjungi aku dan keluargaku dirumah, dan kini aku yang temui dia. Bukan berkunjung karena ingin silaturahmi seperti biasanya, tapi karena ingin tau bagaimana keadaanya dan mendoakan kalau Tuhan akan selalu bersamanya.

Pukul 16.00 aku tiba di RS, ah selalu saja penuh orang. Para suster dan dokter lalu lalang kesana kemari. Aroma obat2an medis mulai kucium yaks. Mulai kunaiki tangga menuju lantai 2. ICU, ya aku datang keruang ICU. Tempat dimana2 mereka yang memerlukan perawatan intensif karena penyakitnya yang sudah gawat. Akhirnya kutemui om dan tanteku, sudah  beberapa hari mereka setia tunggui sepupu kecilku. Kulihat badan mereka kurus sekali, kantung mata sudah mulai muncul dan juga mata yang tunjukan kalau mereka lelah dan khawatir.

“bagaimana keadaannya”? tanya ibuku

“alhamdullilah hari ini sudah sadar, tapi dia tidak ingat siapapun” jawab tanteku.

Aku sontak kaget, dengan kata lain sepupuku amnesia.

“kata dokter itu perkembangan yang pesat tapinya, memang proses awal seperti itu tapi nanti akan kembali normal doakan saja” lanjut tanteku
Kulihat tanteku jauh lebih tenang dari hari pertama aku lihat, mungkin karena sepupuku sudah sadarpun merupakan kabar yang amat sangat baik untuknya. Dengan semangat tanteku bercerita saat pertamakalinya dia melihat anaknya sadarkan diri.

Pukul 17.00 tepat. Jadwal jenguk pasien sudah mulai. Aku diajakn untuk lihat bagaimana keadaan sepupuku. Jujur saja berat, naluriku yang tidak begitu suka rumahsakit dipaksa masuk kesebuah ruangan bernama ICU. Mau bagaimana lagi, kalau bukan karena kdeluarga, mungkin aku lebih pilih naluriku. Aku mulai berjalan menuju pintu utama ICU bersama ayah, ibu, adik dan omku. Peraturan disana menyebutkan tak boleh penjenguk masuk melebihi 2 orang. Kutunggu giliranku didepan gerbang masuk bersama yang lain. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, aneh. Tak lama adiku keluar, giliranku. 1,2,3…….10 kuhitung langkah menuju gerbang utama ruangan sepupuku. Haaaahh. Kuganti pakaianku dengan baju khusus. Modelnya seperti pakaian para dokter yang akan melalukan operasi. Perlahan kudekati pintu besar didepanku.

“wusssshhhhhhhh”
 AC berhembus menepuk wajahku, aroma obat2an medis disini sangat menyengat tusuk lubang hidungku. Kakiku berjalan mulai telusuri koridor, satu persatu kupandangi ruangan kaca transparan dihadadapanku, cari ruangan utama sepupuku. Tidak bisa kujelaskan bagaimana ruangan ini begitu menyeramkan. Imajinasiku bicara kalau disini manusia jadi terlihat seperti robot. Mereka yang tidak sadarkan diri, lalu selang yang ditempel disekujur tubuh, mulut mereka yang diberikan oksigen, infuse yang tertempel dilengan merekamereka, bunyi mesin pendeteksi denyut jantung yang ramai kudengar membuat bulu kudukku merinding.

“Tuhan, betapa beruntungnya aku. Sudah besar begini belum pernah aku rasakan terbaring di rumah sakit  sambil ditusuk jarum sedemikian lama, atau nafas dibantu oksigen” batinku
Kupercepat langkahku mencari ruangan sepupuku, dan akhirnya kutemukan. Gadis kecil yang kucari daritadi. Perlahan aku masuk, dan omku disana juga. Ingin rasanya aku menangis lihat keadaan sepupuku. Berbda sekali dengan beberapa minggu yang lalu. Kurus, pucat, dan botak. Rambutnya dipangkas sampai habis. Hanya ada perban disebelah tengkorak kirinya. Aku tahu dibalik perban itu, hanya ada kulit dan otak tanpa tempurung. Sama seperti rungan lainnya, sekeliling dipenuhi peralatn medis, disudut kanan kulihat  mesin yang memastikan kalau masih ada denyut jantung hidup ditubuhnya Hidungnya tertempel selang oksigen, tangan kirinya diberikan infuse.. Pandanganku kembali tertuju pada gadis didepanku. Matanya terpejam dan kulihat dia menangis. Tak tahan aku lihat pemandangan ini. Bisa kubayangkan mungkin dia rasakan sakit, ingin bicara tapi tak tahu bagaimana caranya. Disebelahku omku hanya memegang erat tangan gadis itu sambil membaca beberapa ayat Al-Quran dan kulihat sepertinya sepupuku mendengar. Dengan mata masih terpejam dia hanya bisa bicara lewat air matanya yang semakin deras kulihat. Tak tahan aku berlama- lama disini, tak tega lihat sepupuku yang menangis tanpa sadarkan diri. Kuputuskan segera keluar dari ruangan ICU itu.

lekas sembuh dik, aku dan keluarga tetap dengan doa dan tetap selalu bicara pada Tuhan"

Rabu, 30 Januari 2013

Kisah Para Sapi (Agen Satu Atap)


Hari itu, berat sekali kaki kerempeng ini. Angkat kaki dari rumah paling aman sejagat raya. Kantung hitam besar melakat dipunggung, dan tas kuning jumbo  dilengan kanan.

“2 minggu ya? Tahan apa aku?” bantinku

Masih saja hati ini berat, padahal mobil kijang biruku sudah melaju dikeramaian kota bandung, sambangi satu persatu mereka yang jadi agen satu atapku. Aku kenal mereka, jauh sebelum aku masuk perkumpulan sapi ini. Tapii…….. kau tahu maksudku

Kijangbiruku melaju arah atas bandung, lebih tepatnya lembang. Ramai sekali. Jelas saja,kuputuskan pergi minggu pagi tentu lembang ramai. Pohon, dan tanaman julang sana- sani. Tebing curam dan perkebunan berserakan sepanjang jalan. Obat hati sekali.

Akhirnya ‘selamat datang di Desa Cibodas’

Desa far far away, dikaki gunung manglayang, jauh dari keramaian, tapi pemandangan tak berbayar. Tuhan, kau tidak mengecewakan. Satu persatu kuturunkan barang, mulai dari tas hitam gendong, tas jumbo kuning dan sepatu boots. Macam mudik lebaran pikirku. Tak jauh dari tempat mobilku parkir, kami semua dekati gang mungil penuh rerumputan, disampingnya ada semacam kebun waluh rambat teduh. Tak jauh, aku temukan penginapan warna hijau kerdil macam kurcaci.

“salam bersahabat, tolong jangan berhantu ya, aku penakut hehe” doaku

Malam senin bersama agen satu atap. Uno, remi kawan tambahan kami. Cekakak cekikik. Sayangnya ujur saja tak pandai aku bergaul. Lebih menyenangkan sendirian. Aku lebih tertarik bicara dengan batinku sebagai lawan, daripada mereka yang mungkin aku kenal tapi tidak bisa aku ajak bicara. Makin saja aku ingin rumah, andai rumahku hanya sebatas jenagkal.

“Tuhan, tahan apa aku?” masih pikirku

Senin, selasa, rabu, kamis,jumat,sabtu, minggu,senin,selasa,rabu,kamis,jumat,sabtu Tuhaan masih lama. Diotakku melayang- layang. Andai mereka yang selalu aku bilang, mungkin bukan rumah yang aku rindukan.  Rutinitasku dipenuhi sebagai pencari ilmu di peternakan, statusku hari ini dan 2 minggu kedepan sebagai mahasiswa magang. Keliling peternakan sudah jadi kewajibanku, minta ajari soal tetek bengek soal ternak, cara masuk tangan dalam rectum sapi, dijilati pedet mungil menggemaskan, angkut rumput, sapu rumput, ikat susu yang dikemas, bahkan ditendang, dikejar dan dieeki pun kulayani. Yaah nasib mahasiswa peternakan, rela jadi kuli dan bersentuhan dengan hewan ternak. Nikmati saja

Kalau ditanya apakah aku cinta kegiatan itu, sungguh aku tak bisa bayangkan betapa aku suka jadi mahasiswa peternakan. Kalau disuruh pilih antara bermalas2an dirumah dan memandikan ternak. Aku lebih memilih option 2 untuk 2 minggu kedepan, hehe. Alasannya mungkin kalian tahu, kalau diam dirumah tentu saja aku lebih banyak dian karena aku belum temukan titik nyaman bersama agen baruku.

Hmmm kuhitung  masih sekitar 6 hari lagi. Akhirnya 7 hari fase magang sudah aku libas, untungnya aku bisa tahan, maksudnya tahan dengan rutinitas kandang. Kalau adaptasi dengan rekan satu atap jujur saja sulit sekali. Tapi minggu ini lebih baik, aku sudah mulai ikut nimbrung ketika mereka semua sedang bergossip, ikut dengar curhatan, main kartu uno dan remi hingga larut, dan sampai akhirnya aku bisa jadi bagian dari mereka. menyenangkan ternyata bisa berbaur. Tidak perlu banyak diam seperti awal2, bicara macam kompor meleduk juga bisa aku lakukan. Dan akhirnya aku tahu watak dan kebiasaan masing2. Dari mulai tukang kentut, mandi lama, si wanita boros, si pemalas, si pintar masak, si penunggu musola, dll. Oh ini ya sisi keindahan magang, temukan keluarga baru. Sampai akhirnya magang akan berakhir 2 hari lagi, dan jujur saja ada yang  ganjal. Bisik ingin pulang dan rindu rumah sejenak jungkir balik. Sayang sekali aku harus pulang, menyesal kalau aku selalu ingin rumah kalau ternyata magang juga sama menyenangkannya dengan tinggal rumah, dan akhirnya bisa kubilang dilemma cibodas dan antapani.

H-1, besok aku kembali ya, kok enggan rasanya. Benar sekali apa kata seniorku “ awal saja ingin pulang dan malasnya tingkat badai, tapi saat akhir kalian pasti berharap magang diperpanjang” dan ya memang, itu yang aku rasakan.

Bakar2 jadi acara puncak, ibu yang punya rumah beserta orang2 dari peternakan yang kami undang. Gelar tikar diruang TV dan saling maaf2 malam itu jadi keromantisan sendiri. Oh ya ada juga senior tingkat atas sekali yang diundang, diantaranya ada kang domi dan kang wahyu yang sejak lama aku kenal. Gelak tawa semakin jadi saja ada mereka berdua, yah memang begitulah mereka. 2 sejoli mungil yang hobinya kocok perut orang sekitar. Habis makan kami lanjutkan dengan permainan kartu hingga larut malam. Semakin saja aku tidak ingin pulang, andai kebersamaan seperti ini dari awal magang. Mungkin aku tidak segoyah ini memikirkan dilemma lokasi hmmmm.

Dan akhirnya sabtu pagi, come home. Baju kemeja, celana jeans, jas alma, tema pakaian hari itu. Biasanya aku gunakan werpek, dan sepatu boot untuk kunjungan ke peternakan. Kali ini ceritanya kami perpisahan dengan orang2 kandang. Ah mengharukan, dan tentunya juga perpisahan dengan mereka agen satu atapku. gedor pintu dini hari, masak pagi hari, cuci piring gunakan jasa piket, jalan pawai menuju peternakan, makan malam bersama, uno dan gapleh larut malam, dan tertawa terbahak bersama tinggal jadi bagian cerita hehe.

jujur saja tidak sebegitu dekatnya aku dan kalian sebelumnya. Aku yang banyak diam dan kalian juga. Berbaur saling beri cerita dan kesan masing2. 2 minggu bukan waktu yang sebentar dan mudah bagi aku yang terkadang sulit bergaul cari mereka yang buat aku bicara. Tidak menyesal aku jadi bagian kalian, kembali kebandung aku bisa simpan memori tentang aku dan agen satu atap. Kalau ditanya apakah aku ingin lagi satu atap dengan kalian. Tentu saja aku jawab “YA” 

agen satu atap : adit,rika,ferdi,dian,kang fajar, bita, rido,anis,reka,achi





Selasa, 29 Januari 2013

Selamat Ulang Tahun

tak terasa, waktu baru saja jungkir balik
angka tunjukan sudah lama sekali aku keluar dari rahim ibuku
semakin besar dan semakin dewasa
ceritaku tak lagi sama
bukan yang kecil yang pintar berlari- lari
bukan sikecil yang berkepang dua
bukan sikecil yang suka menangis minta dibela karena permennya dicuri

aku sudah tinggi, setinggi2nya sampai awan sentuh telapakku
sejuta doa dan ucapan baik bergelimang
ada ucapan selamat ulangtahun buatku
semakin besar
semakin mecintai Tuhan
semakin jadi manusia nyata
semakin segalanya jadi baik

untuk mereka dan aku
yang pernah berulangtahun