Hari itu, berat sekali kaki
kerempeng ini. Angkat kaki dari rumah paling aman sejagat raya. Kantung hitam
besar melakat dipunggung, dan tas kuning jumbo
dilengan kanan.
“2 minggu ya? Tahan apa aku?”
bantinku
Masih saja hati ini berat, padahal
mobil kijang biruku sudah melaju dikeramaian kota bandung, sambangi satu
persatu mereka yang jadi agen satu atapku. Aku kenal mereka, jauh sebelum aku
masuk perkumpulan sapi ini. Tapii…….. kau tahu maksudku
Kijangbiruku melaju arah atas
bandung, lebih tepatnya lembang. Ramai sekali. Jelas saja,kuputuskan pergi
minggu pagi tentu lembang ramai. Pohon, dan tanaman julang sana- sani. Tebing
curam dan perkebunan berserakan sepanjang jalan. Obat hati sekali.
Akhirnya ‘selamat datang di Desa
Cibodas’
Desa far far away, dikaki gunung
manglayang, jauh dari keramaian, tapi pemandangan tak berbayar. Tuhan, kau
tidak mengecewakan. Satu persatu kuturunkan barang, mulai dari tas hitam
gendong, tas jumbo kuning dan sepatu boots. Macam mudik lebaran pikirku. Tak jauh
dari tempat mobilku parkir, kami semua dekati gang mungil penuh rerumputan,
disampingnya ada semacam kebun waluh rambat teduh. Tak jauh, aku temukan
penginapan warna hijau kerdil macam kurcaci.
“salam bersahabat, tolong jangan
berhantu ya, aku penakut hehe” doaku
Malam senin bersama agen satu
atap. Uno, remi kawan tambahan kami. Cekakak cekikik. Sayangnya ujur saja tak
pandai aku bergaul. Lebih menyenangkan sendirian. Aku lebih tertarik bicara
dengan batinku sebagai lawan, daripada mereka yang mungkin aku kenal tapi tidak
bisa aku ajak bicara. Makin saja aku ingin rumah, andai rumahku hanya sebatas
jenagkal.
“Tuhan, tahan apa aku?” masih
pikirku
Senin, selasa, rabu,
kamis,jumat,sabtu, minggu,senin,selasa,rabu,kamis,jumat,sabtu Tuhaan masih
lama. Diotakku melayang- layang. Andai mereka yang selalu aku bilang, mungkin
bukan rumah yang aku rindukan. Rutinitasku
dipenuhi sebagai pencari ilmu di peternakan, statusku hari ini dan 2 minggu
kedepan sebagai mahasiswa magang. Keliling peternakan sudah jadi kewajibanku,
minta ajari soal tetek bengek soal ternak, cara masuk tangan dalam rectum sapi,
dijilati pedet mungil menggemaskan, angkut rumput, sapu rumput, ikat susu yang
dikemas, bahkan ditendang, dikejar dan dieeki pun kulayani. Yaah nasib
mahasiswa peternakan, rela jadi kuli dan bersentuhan dengan hewan ternak. Nikmati
saja
Kalau ditanya apakah aku cinta
kegiatan itu, sungguh aku tak bisa bayangkan betapa aku suka jadi mahasiswa
peternakan. Kalau disuruh pilih antara bermalas2an dirumah dan memandikan
ternak. Aku lebih memilih option 2 untuk 2 minggu kedepan, hehe. Alasannya mungkin
kalian tahu, kalau diam dirumah tentu saja aku lebih banyak dian karena aku
belum temukan titik nyaman bersama agen baruku.
Hmmm kuhitung masih sekitar 6 hari lagi. Akhirnya 7 hari
fase magang sudah aku libas, untungnya aku bisa tahan, maksudnya tahan dengan
rutinitas kandang. Kalau adaptasi dengan rekan satu atap jujur saja sulit
sekali. Tapi minggu ini lebih baik, aku sudah mulai ikut nimbrung ketika mereka
semua sedang bergossip, ikut dengar curhatan, main kartu uno dan remi hingga
larut, dan sampai akhirnya aku bisa jadi bagian dari mereka. menyenangkan
ternyata bisa berbaur. Tidak perlu banyak diam seperti awal2, bicara macam kompor
meleduk juga bisa aku lakukan. Dan akhirnya aku tahu watak dan kebiasaan
masing2. Dari mulai tukang kentut, mandi lama, si wanita boros, si pemalas, si
pintar masak, si penunggu musola, dll. Oh ini ya sisi keindahan magang, temukan
keluarga baru. Sampai akhirnya magang akan berakhir 2 hari lagi, dan jujur saja
ada yang ganjal. Bisik ingin pulang dan
rindu rumah sejenak jungkir balik. Sayang sekali aku harus pulang, menyesal
kalau aku selalu ingin rumah kalau ternyata magang juga sama menyenangkannya
dengan tinggal rumah, dan akhirnya bisa kubilang dilemma cibodas dan antapani.
H-1, besok aku kembali ya, kok
enggan rasanya. Benar sekali apa kata seniorku “ awal saja ingin pulang dan
malasnya tingkat badai, tapi saat akhir kalian pasti berharap magang diperpanjang”
dan ya memang, itu yang aku rasakan.
Bakar2 jadi acara puncak, ibu
yang punya rumah beserta orang2 dari peternakan yang kami undang. Gelar tikar
diruang TV dan saling maaf2 malam itu jadi keromantisan sendiri. Oh ya ada juga
senior tingkat atas sekali yang diundang, diantaranya ada kang domi dan kang
wahyu yang sejak lama aku kenal. Gelak tawa semakin jadi saja ada mereka
berdua, yah memang begitulah mereka. 2 sejoli mungil yang hobinya kocok perut
orang sekitar. Habis makan kami lanjutkan dengan permainan kartu hingga larut
malam. Semakin saja aku tidak ingin pulang, andai kebersamaan seperti ini dari
awal magang. Mungkin aku tidak segoyah ini memikirkan dilemma lokasi hmmmm.
Dan akhirnya sabtu pagi, come
home. Baju kemeja, celana jeans, jas alma, tema pakaian hari itu. Biasanya aku
gunakan werpek, dan sepatu boot untuk kunjungan ke peternakan. Kali ini
ceritanya kami perpisahan dengan orang2 kandang. Ah mengharukan, dan tentunya
juga perpisahan dengan mereka agen satu atapku. gedor pintu dini hari, masak pagi hari, cuci piring gunakan jasa piket, jalan pawai menuju peternakan, makan malam bersama, uno dan gapleh larut malam, dan tertawa terbahak bersama tinggal jadi bagian cerita hehe.
jujur saja tidak sebegitu
dekatnya aku dan kalian sebelumnya. Aku yang banyak diam dan kalian juga. Berbaur
saling beri cerita dan kesan masing2. 2 minggu bukan waktu yang sebentar dan mudah
bagi aku yang terkadang sulit bergaul cari mereka yang buat aku bicara. Tidak menyesal
aku jadi bagian kalian, kembali kebandung aku bisa simpan memori tentang aku
dan agen satu atap. Kalau ditanya apakah aku ingin lagi satu atap dengan
kalian. Tentu saja aku jawab “YA”
agen satu atap : adit,rika,ferdi,dian,kang fajar, bita, rido,anis,reka,achi