Hari ini aku, adik dan ibuku
memutuskan kembali ke Rumah Sakit. Kami dapat kabar kalau sekarang sepupuku
sudah bisa diajak bicara. Sekalian kami igin lihat perkembangannya, kami juga
membawakan sedikit makanan untuk om dan tanteku yang sudah seminggu ini tidak
pulang kerumahnya. Pukul 15.30 WIB kijang biruku melaju kedaerah Sukajadi. Hari
ini bandung diguyur hujan seharian, untungnya jalanan tidak begitu macet jadi aku
bisa sampai lebih cepat.
Pukul 16.30 WIB kami sampai. Hari ini
Rumah Sakit tidak begitu ramai, mungkin karena hujan mereka enggan keluar rumah
untuk jenguk pasien. Sepupuku kini
dirawat diruang NCCU, bukan di ICU lagi., Letaknya lumayan jauh dari pintu
masuk utama. Butuh sekitar 10 menit
untuk sampai keruangan itu. Tak lama, aku temukan tanteku yang sedang mengobrol
dengan tamunya. Aku hanya salam dan kemudian duduk membiarkan tanteku
melanjutkna pembicaraannya. Jadwal besuk hari itu dari pukul 16.00 – 17.30 WIB,
masih banyak waktu. Ibuku masuk pertama.
Dipikiranku hanya terpikir
bagaimana aku mulai pembicaraan, apa aku nangis nanti? Aku ini kan melankolis. Masih
adakah alat pendeteksi denyut nadi? Aroma obat2 medik seperti di ICU. Ahhhh rumit.
Tak lama omku keluar, lalu dia beri isyarat kalau giliranku masuk. Disana hanya
ada sekitar 2 pasien, ditambah ada beberapa suster yang menunggui setiap
ruangan sekitar 2 orang. Rungan NCCU didominasi oleh warna hijau daun, dan juga
warna putih krem dari berbagai macam peralatan medis yang disimpan disana. Tak jauh
dari pintu masuk kutemukan ruangan sepupuku. Kutemui sepupuku yang sedang
berbaring sambil bicara dengan ibuku. Dengan ragu aku sapa sepupuku
“hai , ingat aku tidak?” sapaku,
sambil kubiaran telapakku sentuh kulit kakinya
Dia hanya bengong melihat aku yang
mungkin baru hari ini dilihatnya
“sebentar yaa sebentar” sambil
melambaikan tangan dia memintaku untuk menunggu.
Kulihat dia seperti kelelahan dan menahan sakit. Matanya kadang terpejam dan kadang tidak. Aku tidak mengerti apa isyarat itu. Tak lama
Kulihat dia seperti kelelahan dan menahan sakit. Matanya kadang terpejam dan kadang tidak. Aku tidak mengerti apa isyarat itu. Tak lama
“kamu siapa? “ tanyanya. Jujur saja
ada yang lumer, entah kenapa ada
kekecewaan ketika dia juga tidak ingant aku sama sekali. Aku coba mengerti,
bukan aku saja yang tidak diingatnya.
“ini teh vaya, ingat tidak?” ibuku
bertanya
“iya ini aku, teeh vaya”
Sepupuku hanya menggeleng kepalanya.
“kalian sama? “ tanya sepupuku
dengan polosnya .
“iya kita sama, teeh vaya ini
ananya uwa dek”
Gadis mungil ini hanya menatapku dan mengangguk, mungkin ia coba ingat2 siapa aku ini. Sambil tersenyum ia tiba2 berkata.
“ ih lucu, kamu cantik sekali” dengan
polos gadis mungil dihadapanku sambil tersenyum.
gadis
yang sedang terbaring tak berdaya seperti ini sedang coba mengingatku dan
sempat2nya dia bicara seperti itu.
“terimakasih ya” jawabku
tak lama sepupuku bicara lagi
tak lama sepupuku bicara lagi
“boleh pegang tangan? “ pintanya
Kuberikan tangan kananku supaya
digenggamnya. Entah kenapa erat sekali, dan sepertinya tangannya bicara padaku
“kok dingin sih? Yang ini engga”
sambil memindahkan tangannya ketangan ibuku
“iya diluar hujan, jadi aku
kedinginan”
Dia hanya mengangguk. Lucu sekali,
polos seperti aslinya. Kudengar cerita kalau dia sekarang suka jahili para
suster dan kedua orang tuanya. Terakhir kali kejahilanya dengan berpura2
pingsan sampai para suster, om dan tanteku kaget bukan main. Dan tiba2 dia bangun
sambil tertawa dan bicara kalau dia bohong. Sempat2nya dia seperti itu.
Entah dia kelelahan atau ngantuk,
berulang kali dia selalu memejamkan mata dan diam seperti oranng tidur. Lalau beberapa
menit kemudian dia bicarara kembali dengan kami dan para suster.
Kali ini dia tatap aku dan ibuku,
sambil tersenyum seolah ingin bicara sesuatu.
“maafin aku ya, maafin aku”. Wajahnya
begitu memelas, aku bisa mengerti. Dari matanya kulihat ia menangis
“maaf buat apa ade” kata ibuku
“iya gapapa de” sahutku
“maafin aku yaah maafin”
suasanya diruangan terasa berbeda, semacam terharu dan takut ketika sepupuku bicara semacam itu. Tak betah rasanya berdiam lama disana, bukan karena aku tak suka bertemu dengan sepupuku tapi karena memang jujur saja aku ingin menangis diluar.
“ de aku keluar dulu ya, cepet
sembuh nanti kita main bareng lagi. Dadah”
kulambaikan tangan sambil bergegas keluar kamar
kulambaikan tangan sambil bergegas keluar kamar
Dia hanya mengangguk dan tersenyum
Tuhan
terimakasih, aku masih bisa bicara dengannya. Besok aku datang lagi, bicara dan
coba ingat aku ya dek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar