Sabtu, 28 Juni 2014

embun saja ya embun

Cornelius. Aku tidak pernah minta kalau aku harus pilih takdirku.
baikkah kalau aku minta     dilahirkan jadi embun pagi?  
Aku benci menjadi sulit. Itu saja.

bicara tentang sulit aku tahu kalau bukan aku saja yang punya sejuta masalah di dunia ini.

Tanah takan pernah berubah jadi udara. Begitupun aku. Sadar kalau berkeluh kesah bukan yang terbaik. Maaf saja maaf.

hari ini sempoyongan kulihat semut berjalan. Mendengkur mereka dibawah sengatan matahari. Kupikir mereka sama berkeluh juga denganku. Rasa panas lelah jadi yang kecil. Itu rasaku sama. Mereka berjuang. Aku juga sama berjuang.

Gadingan, 29 juni 2014.
Yang lain masih terlelap. Aku semakin bingung.

Rabu, 27 November 2013

Spesial

Ini sudah yang ketiga kali. Aku temui 15 yang sama ditahun yang berbeda. Presepsiku antara panjang dan pendek. Entahlah bersyukur saja.
15 yang lalu aku dengan mereka, tiup lilin lalu berharap segalanya jadi matahari. Utamaku masih
baik, entah aku entah semuanya. Mereka- mereka berucap bahagia, untuk aku yang semakin tua.
Terharu ketika orangtuaku sedikit lupa. Sampai hari ini. Hanya sedikit lupa. Mereka terlalu sibuk, tentu untuk masa depanku. Tak apa, langkah mereka doanya.
Untung ada mereka, ada yang ingat setidaknya.
Terimakasih, untuk doa dan yang begitu spesial

(ndi, arin, tiwi, udil, desi, asri, pipi dan kamu tian)


Minggu, 17 November 2013

iseng iseng disela tekpan nih :)

Walau sebenarnya menurutku mereka pandai bersembunyi
Saling berpaling jadi hitam kataku hal yang biasa sunyi
Bukan dekat kalau bicara lihat kepala , tapi Cornelius ajar cinta belajar dari wajah
Aku tahu tidak selalu keadaan baik buat semua, ada yang megerti dan cuma aku yang mengerti
Bukan aku angkat dagu tapi aku kadang yang mengerti, aku coba dengar aku coba beri solusi
Aku diajarkan tidak berpihak
Cobalah tahu wahai kupu
Semua baik, semua berhati
Bersama coba mengerti, mengerti banyak kupu


Kamis, 27 Juni 2013

Hantu Kaus Kaki

Dulu ibuku sering bilang kalau terkadang ada hal yang tidak bisa dilihat oleh mata. Bukan semcam menakuti atau apa katanya, tapi memamg kamu perlu percaya.Tak peduli orang bilang aku norak kalau harus percaya dengan hal semcam itu, aku percaya dan kalian harus percaya.  Hari ini, hari ulang tahunku yang ke 7, tak sabar tentunya. Gadis mungil mana yang benci hari ulang tahunnya, dimana kue besar, orang berkumpul untuk beri selamat dan juga kado mungil yang berlimpah. Aku suka itu ,tentunya kalian juga dan yang paling spesial adalah abangku pulang kali ini.
aku masih berlari kecil dikoridor rumahku, ganggu ibuku yang sedang persiapkan makan malam keluarga dan kejutan kecil untuk ulang tahunku. AKu tertawa kecil kegirangan. kemudian kusapa Ayahku yang sedang baca Koran dihalaman rumah, minum kopi jadi rutinitas andalannya ditambah dengan rokok putih kecil ditangan kanannya. Masih tak berubah. Ayahku perokok berat, sampai sekarang masih saja aku tak paham kenapa beliau begitu mencintai benda putih berasap itu, tapi tetap aku cinta Ayah. Kualihkan pandanganku kejendela mungil sebelah kananku, kulihat pria tinggi dan besar lalu tampan sedang berguling tidak karuan masih dengan celana pendek tidurnya dan kaus belel hitam. Abangku !!! itu abangku, sudah pulang ternyata. Sudah sekitar 4 tahun ia menetap di UK untuk timba ilmu dan ternyata pulang hari ini, rindu sekali rasanya. Aku tertawa terkikik dan berniat ganggu dia.
Sekilas aku lihat dengan mata bulatku, kupincingkan mata sampai memang kutemukan yang kucari. wajahnya yang tertumpuk bantal dan selimut kutemukan, Tampan sekali, masih dengan hidung mancung dan kulit putihnya alis tebal macam sinchan dan juga mata sipit serta pipi yang menggemaskan. Iseng saja kucubit pipi gembulnya.
“aaaaaaaarggghhhh” teriaknya
Abangku berteriak sampai terbangun dan aku hanya tertawa sambil berlari dikoridor rumah. Lucunya abangku. Abangku bangun lalu tersenyum.
salah satu favoritku ketika hari ulang tahunku adalah dekorasi rumah. selalu tampak cantik dan anggun setiap salah satu dari kami sekeluarga merayakan ulang tahun, dan khusus untukku disetiap perapian selalu ada kaus kaki mungil bertengger dan juga dekorasi warna putih disepanjang dinding ruangan . Aku suka kaus kaki dan segala macam hal berwarna putih, itulah kenapa keluargaku simpan barang mungil tersebut setiap hari bersejarahku. Satu persatu keluargaku datang, sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka. ada Emily anak seusiaku, lalu ada margareth gadis cantik seperti Barbie dengan wajah mirip sekali dengan kakakku, kemudian justin, magia, ania dan masih banyak lagi. Aku coba tersenyum untuk mereka satu persatu, aku senang kegirangan.
Tiba saatnya aku tiup lilin, sudah ada kue bulat dengan hiasan coklat dan gambar sepasang kaus kaki ditengahnya, lalu tertancap angka 7 sebagai symbol kalau ini ulang tahunku yang ke-7. Disamping kananku ada kakakku yang tampan dengan jas putih, dan disamping kiriku ada orang tuaku dengan balutan pakaian bernuansa putih, ibuku cantik dengan polesan makeup sederhana dibalut lipstick merah berkilau . bibir mungilnya terlihat jelas seperti permen anak kecil yang selalu aku beli diwarung sebrang rumah. Lalu ayahku semakin tampan dengan rambut putihnya yang semakin banyak dan juga kumis tebal, tapi ia tetap gagah dan aku semakin terpesona dengan ayahku.
“wusssshhhhhh” kami berempat tiup lilin itu bersamaan. Kulihat ibuku menangis, sepupuku juga. Kami berdoa bersama, menghadap fotoku ditengah perapian. Ulang tahunku  yang ke 7 dan tepat kepergianku selama 4 tahun. Aku masih ada bedanya tak terlihat, aku  hidup bersama keluargaku, selalu berlari seperti anak kecil masih jahil seperti dulu. Kulihat abangku, berdoa tertunduk dan aku dengar, katanya
“selamat ulang tahun adik mungil, aku merindukanmu, pasti sudah besar dan cantik, salam untuk kakek dan nenek ya, aku percaya kamu disurga dam terimakasih cubitan pipinya pagi hari, aku melihatmu”
Aku senyum, aku tahu. aku tertawa sambil cium pipi abangku, aku pergi ya abang.

Sejak awal aku sudah bilang terkadang ada hal yang tak bisa dilihat oleh mata, dan kalian harus percaya. aku percaya karena percaya  itu aku. 

CorneliusMengerti

Entah harus bersikap apa kali ini. Tuhan selalu  tak pernah beri penjelasan mengenai pemberiannya, untuk yang pertama kali, kedua bahkan kali ini yang ketiga. masih saja berkutat dengan ujung benang yang sampe sekarang tak temukan jarum bolong. Ingin sekali aku coba bicara pada Tuhan kalau aku ini tidak sekuat seperti biasanya, tak bisa selalu kuandalkan senyum dan gelak tawa seperti spongebob dengan cekikik atau Patrick yang anggap segala buruk itu jadi baik. Radarku sudah semakin lemah, tak pandai terima takdir mungkin kali ini. Lapang dadapun tampaknya sudah tak didengar oleh akal warasku, hanya terima murka tentang takdir atau kebodohanku semacamya.
Selamat pagi Alam. Selalu kuucapkan terimakasih kalau sampai saat ini aku masih sadar kalau pagi itu matahari dan malam itu bulan. kuning itu terang dan hitam itu gelap. warasku masih terima itu. Kadang aku keluhkan langit kenapa tidak secerah hari ini, aku cinta mereka yang pagi hari bicara kamu masih punya akal. Masih seputar kekesalanku pada alam. maaf barusan aku bilang cinta dan kemudian aku murka. memang itu keadaannya. Labil, klise tak tahulah itu. entah fatamorgana atau konotasi, hidupku sampai sekarang tak mengerti. apa itu adil, aku dibawah terus rasanya. sampai sekarang akar tak mengenal atas.
Cornelius tak sangka kalau gadis itu jadi sedikit gila. didengarnya cerita  mengenai lamunan pagi dibalkon bantu fikir. baru saja dia dengar kalau burung minta sayapnya jadi jemari. ketika di tanya mengapa mereka jawab mereka lelah terbang, mereka iri pada gadis itu yang jelas tahu jemari. lalu sigadis berjalan, sekitar entahlah sebisanya katanya. lalu gadis itu temui hantu kaus kaki, bertanya kenapa temui mati, hantunya jawab dia kelelahan. lalu temui lagi kakek janggut merah, ia sedang berjalan sempoyongan cari tempat teduh, didengar katanya ia juga kelelahan. Cornelius hanya mengangguk. Cornelius mengerti. 

Minggu, 24 Februari 2013

Dasar Sabtu Malam

Malam- malam jalan kesana
Sorot lampu kelap- kelip
sesak, kaya semut kelihatannya
Ramai kaya dipasar, tapi bukan pasar
hahahahhihihihi
Dasar Sabtu malam

Padat merayap, tadinya sepi padahal
Merah, kuning, hijau, silau
Paha ayam, dada kalkun berserakan
Bisik2 mendengung keras dipendengaran
Berisik sekali, bising
Dasar Sabtu malam

Bandung kapan sepi?
Beriak selalu penuh makhluk
cari sepi dimana
kehutan sana, temani pohon
gara2 Sabtu malam

Bandung hidup
Bandung punya nadi, kami nadinya

Panca Indra


Coba dengar
Fneuhjghffrugbsrjkghvfxvb
Percuma, telingaku masih saja kaku
Kulihat bibirmu bicara panjang lebar
Soal segitiga, jajar genjang, lingkaran
Tak jauh gelagatmu bicara
Aku coba dengar ko

Coba dengar lagi
Ngiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnng
Itu yang kudengar
Sepertinya sekarang mulai bicara tentang kubus, atau mungkin balok, atau bisa juga soal kerucut
Sudahlah menyerah sana
Baik, aku masih dengar ko, masis coba dengar

Mau dengar lagi
(hening)
Kamu tidak bicara lagi ya
Terlalu hening
Biasanya kudengar langit menggerutu
Kucoba benar mendengar

“aku dengar dari tadi, soal kubus, segitiga, balok dan segalanya
Kala telingaku dengung, hati ini masih coba jadi pengganti telinga
Gerutu langit diatas sana
Cornelius yang masih murka tentang panca indraku hehe
Maaf
Untuk yang baik yang dengar
Untuk yang mengerti panca indraku
Maaf, ternyata masih saja sulit
Indraku masih tak bisa kulampaui"