Rabu, 06 Februari 2013

Kisah Sepupu Kecil I


Sejak dulu aku tak begitu suka rumah sakit, aroma obat, gesekan roda dengan lantai yang membawa pasien jadi pemandangan kurang mengenakan buatku. Akhir2 ini kerjaanku hanya bulak balik kunjungi rumah sakit. Bukan aku yang  terbaring tentunya. Kalo bukan ada hubungannya dengan keluargaku mungkin tidak ingin kusempatkan bercengkrama dengan tempat itu. 

Hari ini  aku dan keluargaku memutuskan jenguk sepupu kecilku yang terbaring di RS. Sudah 3 hari ini dia terbaring tak sadarkan diri. Kudengar katanya pembuluh darah diotaknya pecah, bisa dibilang dia koma setelah serangan yang membuat otaknya tidak berfungsi secara normal kembali. Kupikir penyakit semacam itu hanya ada ditelevisi saja, ternyata kehidupan nyatapun memang ada. Sepupuku baru berusia 10 tahun kurang lebih. Anak pintar, banyak bicara dan juga lincah. Aku masih ingat beberapa minggu yang lagu dia baru saja kunjungi aku dan keluargaku dirumah, dan kini aku yang temui dia. Bukan berkunjung karena ingin silaturahmi seperti biasanya, tapi karena ingin tau bagaimana keadaanya dan mendoakan kalau Tuhan akan selalu bersamanya.

Pukul 16.00 aku tiba di RS, ah selalu saja penuh orang. Para suster dan dokter lalu lalang kesana kemari. Aroma obat2an medis mulai kucium yaks. Mulai kunaiki tangga menuju lantai 2. ICU, ya aku datang keruang ICU. Tempat dimana2 mereka yang memerlukan perawatan intensif karena penyakitnya yang sudah gawat. Akhirnya kutemui om dan tanteku, sudah  beberapa hari mereka setia tunggui sepupu kecilku. Kulihat badan mereka kurus sekali, kantung mata sudah mulai muncul dan juga mata yang tunjukan kalau mereka lelah dan khawatir.

“bagaimana keadaannya”? tanya ibuku

“alhamdullilah hari ini sudah sadar, tapi dia tidak ingat siapapun” jawab tanteku.

Aku sontak kaget, dengan kata lain sepupuku amnesia.

“kata dokter itu perkembangan yang pesat tapinya, memang proses awal seperti itu tapi nanti akan kembali normal doakan saja” lanjut tanteku
Kulihat tanteku jauh lebih tenang dari hari pertama aku lihat, mungkin karena sepupuku sudah sadarpun merupakan kabar yang amat sangat baik untuknya. Dengan semangat tanteku bercerita saat pertamakalinya dia melihat anaknya sadarkan diri.

Pukul 17.00 tepat. Jadwal jenguk pasien sudah mulai. Aku diajakn untuk lihat bagaimana keadaan sepupuku. Jujur saja berat, naluriku yang tidak begitu suka rumahsakit dipaksa masuk kesebuah ruangan bernama ICU. Mau bagaimana lagi, kalau bukan karena kdeluarga, mungkin aku lebih pilih naluriku. Aku mulai berjalan menuju pintu utama ICU bersama ayah, ibu, adik dan omku. Peraturan disana menyebutkan tak boleh penjenguk masuk melebihi 2 orang. Kutunggu giliranku didepan gerbang masuk bersama yang lain. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, aneh. Tak lama adiku keluar, giliranku. 1,2,3…….10 kuhitung langkah menuju gerbang utama ruangan sepupuku. Haaaahh. Kuganti pakaianku dengan baju khusus. Modelnya seperti pakaian para dokter yang akan melalukan operasi. Perlahan kudekati pintu besar didepanku.

“wusssshhhhhhhh”
 AC berhembus menepuk wajahku, aroma obat2an medis disini sangat menyengat tusuk lubang hidungku. Kakiku berjalan mulai telusuri koridor, satu persatu kupandangi ruangan kaca transparan dihadadapanku, cari ruangan utama sepupuku. Tidak bisa kujelaskan bagaimana ruangan ini begitu menyeramkan. Imajinasiku bicara kalau disini manusia jadi terlihat seperti robot. Mereka yang tidak sadarkan diri, lalu selang yang ditempel disekujur tubuh, mulut mereka yang diberikan oksigen, infuse yang tertempel dilengan merekamereka, bunyi mesin pendeteksi denyut jantung yang ramai kudengar membuat bulu kudukku merinding.

“Tuhan, betapa beruntungnya aku. Sudah besar begini belum pernah aku rasakan terbaring di rumah sakit  sambil ditusuk jarum sedemikian lama, atau nafas dibantu oksigen” batinku
Kupercepat langkahku mencari ruangan sepupuku, dan akhirnya kutemukan. Gadis kecil yang kucari daritadi. Perlahan aku masuk, dan omku disana juga. Ingin rasanya aku menangis lihat keadaan sepupuku. Berbda sekali dengan beberapa minggu yang lalu. Kurus, pucat, dan botak. Rambutnya dipangkas sampai habis. Hanya ada perban disebelah tengkorak kirinya. Aku tahu dibalik perban itu, hanya ada kulit dan otak tanpa tempurung. Sama seperti rungan lainnya, sekeliling dipenuhi peralatn medis, disudut kanan kulihat  mesin yang memastikan kalau masih ada denyut jantung hidup ditubuhnya Hidungnya tertempel selang oksigen, tangan kirinya diberikan infuse.. Pandanganku kembali tertuju pada gadis didepanku. Matanya terpejam dan kulihat dia menangis. Tak tahan aku lihat pemandangan ini. Bisa kubayangkan mungkin dia rasakan sakit, ingin bicara tapi tak tahu bagaimana caranya. Disebelahku omku hanya memegang erat tangan gadis itu sambil membaca beberapa ayat Al-Quran dan kulihat sepertinya sepupuku mendengar. Dengan mata masih terpejam dia hanya bisa bicara lewat air matanya yang semakin deras kulihat. Tak tahan aku berlama- lama disini, tak tega lihat sepupuku yang menangis tanpa sadarkan diri. Kuputuskan segera keluar dari ruangan ICU itu.

lekas sembuh dik, aku dan keluarga tetap dengan doa dan tetap selalu bicara pada Tuhan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar