Sejak dulu aku
tak begitu suka rumah sakit, aroma obat, gesekan roda dengan lantai yang
membawa pasien jadi pemandangan kurang mengenakan buatku. Akhir2 ini kerjaanku
hanya bulak balik kunjungi rumah sakit. Bukan aku yang terbaring tentunya. Kalo bukan ada
hubungannya dengan keluargaku mungkin tidak ingin kusempatkan bercengkrama
dengan tempat itu.
Hari ini aku dan keluargaku memutuskan jenguk sepupu
kecilku yang terbaring di RS. Sudah 3 hari ini dia terbaring tak sadarkan diri.
Kudengar katanya pembuluh darah diotaknya pecah, bisa dibilang dia koma setelah
serangan yang membuat otaknya tidak berfungsi secara normal kembali. Kupikir
penyakit semacam itu hanya ada ditelevisi saja, ternyata kehidupan nyatapun
memang ada. Sepupuku baru berusia 10 tahun kurang lebih. Anak pintar, banyak
bicara dan juga lincah. Aku masih ingat beberapa minggu yang lagu dia baru saja
kunjungi aku dan keluargaku dirumah, dan kini aku yang temui dia. Bukan
berkunjung karena ingin silaturahmi seperti biasanya, tapi karena ingin tau
bagaimana keadaanya dan mendoakan kalau Tuhan akan selalu bersamanya.
Pukul 16.00 aku
tiba di RS, ah selalu saja penuh orang. Para suster dan dokter lalu lalang
kesana kemari. Aroma obat2an medis mulai kucium yaks. Mulai kunaiki tangga
menuju lantai 2. ICU, ya aku datang keruang ICU. Tempat dimana2 mereka yang
memerlukan perawatan intensif karena penyakitnya yang sudah gawat. Akhirnya
kutemui om dan tanteku, sudah beberapa
hari mereka setia tunggui sepupu kecilku. Kulihat badan mereka kurus sekali, kantung
mata sudah mulai muncul dan juga mata yang tunjukan kalau mereka lelah dan
khawatir.
“bagaimana
keadaannya”? tanya ibuku
“alhamdullilah
hari ini sudah sadar, tapi dia tidak ingat siapapun” jawab tanteku.
Aku sontak
kaget, dengan kata lain sepupuku amnesia.
“kata dokter itu
perkembangan yang pesat tapinya, memang proses awal seperti itu tapi nanti akan
kembali normal doakan saja” lanjut tanteku
Kulihat tanteku
jauh lebih tenang dari hari pertama aku lihat, mungkin karena sepupuku sudah
sadarpun merupakan kabar yang amat sangat baik untuknya. Dengan semangat
tanteku bercerita saat pertamakalinya dia melihat anaknya sadarkan diri.
Pukul 17.00
tepat. Jadwal jenguk pasien sudah mulai. Aku diajakn untuk lihat bagaimana
keadaan sepupuku. Jujur saja berat, naluriku yang tidak begitu suka rumahsakit
dipaksa masuk kesebuah ruangan bernama ICU. Mau bagaimana lagi, kalau bukan
karena kdeluarga, mungkin aku lebih pilih naluriku. Aku mulai berjalan menuju
pintu utama ICU bersama ayah, ibu, adik dan omku. Peraturan disana menyebutkan
tak boleh penjenguk masuk melebihi 2 orang. Kutunggu giliranku didepan gerbang
masuk bersama yang lain. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari
biasanya, aneh. Tak lama adiku keluar, giliranku. 1,2,3…….10 kuhitung langkah
menuju gerbang utama ruangan sepupuku. Haaaahh. Kuganti
pakaianku dengan baju khusus. Modelnya seperti pakaian para dokter yang akan
melalukan operasi. Perlahan kudekati pintu besar didepanku.
“wusssshhhhhhhh”
AC berhembus menepuk wajahku, aroma obat2an medis disini sangat menyengat tusuk lubang hidungku. Kakiku berjalan mulai telusuri koridor, satu persatu kupandangi ruangan kaca transparan dihadadapanku, cari ruangan utama sepupuku. Tidak bisa kujelaskan bagaimana ruangan ini begitu menyeramkan. Imajinasiku bicara kalau disini manusia jadi terlihat seperti robot. Mereka yang tidak sadarkan diri, lalu selang yang ditempel disekujur tubuh, mulut mereka yang diberikan oksigen, infuse yang tertempel dilengan merekamereka, bunyi mesin pendeteksi denyut jantung yang ramai kudengar membuat bulu kudukku merinding.
AC berhembus menepuk wajahku, aroma obat2an medis disini sangat menyengat tusuk lubang hidungku. Kakiku berjalan mulai telusuri koridor, satu persatu kupandangi ruangan kaca transparan dihadadapanku, cari ruangan utama sepupuku. Tidak bisa kujelaskan bagaimana ruangan ini begitu menyeramkan. Imajinasiku bicara kalau disini manusia jadi terlihat seperti robot. Mereka yang tidak sadarkan diri, lalu selang yang ditempel disekujur tubuh, mulut mereka yang diberikan oksigen, infuse yang tertempel dilengan merekamereka, bunyi mesin pendeteksi denyut jantung yang ramai kudengar membuat bulu kudukku merinding.
“Tuhan, betapa
beruntungnya aku. Sudah besar begini belum pernah aku rasakan terbaring di
rumah sakit sambil ditusuk jarum
sedemikian lama, atau nafas dibantu oksigen” batinku
Kupercepat
langkahku mencari ruangan sepupuku, dan akhirnya kutemukan. Gadis kecil yang
kucari daritadi. Perlahan aku masuk, dan omku disana juga. Ingin rasanya aku
menangis lihat keadaan sepupuku. Berbda sekali dengan beberapa minggu yang
lalu. Kurus, pucat, dan botak. Rambutnya dipangkas sampai habis. Hanya ada
perban disebelah tengkorak kirinya. Aku tahu dibalik perban itu, hanya ada
kulit dan otak tanpa tempurung. Sama seperti rungan lainnya, sekeliling
dipenuhi peralatn medis, disudut kanan kulihat
mesin yang memastikan kalau masih ada denyut jantung hidup ditubuhnya
Hidungnya tertempel selang oksigen, tangan kirinya diberikan infuse..
Pandanganku kembali tertuju pada gadis didepanku. Matanya terpejam dan kulihat
dia menangis. Tak tahan aku lihat pemandangan ini. Bisa kubayangkan mungkin dia
rasakan sakit, ingin bicara tapi tak tahu bagaimana caranya. Disebelahku omku
hanya memegang erat tangan gadis itu sambil membaca beberapa ayat Al-Quran dan
kulihat sepertinya sepupuku mendengar. Dengan mata masih terpejam dia hanya
bisa bicara lewat air matanya yang semakin deras kulihat. Tak tahan aku
berlama- lama disini, tak tega lihat sepupuku yang menangis tanpa sadarkan
diri. Kuputuskan segera keluar dari ruangan ICU itu.
“lekas sembuh dik, aku dan keluarga tetap dengan doa dan tetap selalu bicara pada Tuhan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar