Kamis, 27 Juni 2013

Hantu Kaus Kaki

Dulu ibuku sering bilang kalau terkadang ada hal yang tidak bisa dilihat oleh mata. Bukan semcam menakuti atau apa katanya, tapi memamg kamu perlu percaya.Tak peduli orang bilang aku norak kalau harus percaya dengan hal semcam itu, aku percaya dan kalian harus percaya.  Hari ini, hari ulang tahunku yang ke 7, tak sabar tentunya. Gadis mungil mana yang benci hari ulang tahunnya, dimana kue besar, orang berkumpul untuk beri selamat dan juga kado mungil yang berlimpah. Aku suka itu ,tentunya kalian juga dan yang paling spesial adalah abangku pulang kali ini.
aku masih berlari kecil dikoridor rumahku, ganggu ibuku yang sedang persiapkan makan malam keluarga dan kejutan kecil untuk ulang tahunku. AKu tertawa kecil kegirangan. kemudian kusapa Ayahku yang sedang baca Koran dihalaman rumah, minum kopi jadi rutinitas andalannya ditambah dengan rokok putih kecil ditangan kanannya. Masih tak berubah. Ayahku perokok berat, sampai sekarang masih saja aku tak paham kenapa beliau begitu mencintai benda putih berasap itu, tapi tetap aku cinta Ayah. Kualihkan pandanganku kejendela mungil sebelah kananku, kulihat pria tinggi dan besar lalu tampan sedang berguling tidak karuan masih dengan celana pendek tidurnya dan kaus belel hitam. Abangku !!! itu abangku, sudah pulang ternyata. Sudah sekitar 4 tahun ia menetap di UK untuk timba ilmu dan ternyata pulang hari ini, rindu sekali rasanya. Aku tertawa terkikik dan berniat ganggu dia.
Sekilas aku lihat dengan mata bulatku, kupincingkan mata sampai memang kutemukan yang kucari. wajahnya yang tertumpuk bantal dan selimut kutemukan, Tampan sekali, masih dengan hidung mancung dan kulit putihnya alis tebal macam sinchan dan juga mata sipit serta pipi yang menggemaskan. Iseng saja kucubit pipi gembulnya.
“aaaaaaaarggghhhh” teriaknya
Abangku berteriak sampai terbangun dan aku hanya tertawa sambil berlari dikoridor rumah. Lucunya abangku. Abangku bangun lalu tersenyum.
salah satu favoritku ketika hari ulang tahunku adalah dekorasi rumah. selalu tampak cantik dan anggun setiap salah satu dari kami sekeluarga merayakan ulang tahun, dan khusus untukku disetiap perapian selalu ada kaus kaki mungil bertengger dan juga dekorasi warna putih disepanjang dinding ruangan . Aku suka kaus kaki dan segala macam hal berwarna putih, itulah kenapa keluargaku simpan barang mungil tersebut setiap hari bersejarahku. Satu persatu keluargaku datang, sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mereka. ada Emily anak seusiaku, lalu ada margareth gadis cantik seperti Barbie dengan wajah mirip sekali dengan kakakku, kemudian justin, magia, ania dan masih banyak lagi. Aku coba tersenyum untuk mereka satu persatu, aku senang kegirangan.
Tiba saatnya aku tiup lilin, sudah ada kue bulat dengan hiasan coklat dan gambar sepasang kaus kaki ditengahnya, lalu tertancap angka 7 sebagai symbol kalau ini ulang tahunku yang ke-7. Disamping kananku ada kakakku yang tampan dengan jas putih, dan disamping kiriku ada orang tuaku dengan balutan pakaian bernuansa putih, ibuku cantik dengan polesan makeup sederhana dibalut lipstick merah berkilau . bibir mungilnya terlihat jelas seperti permen anak kecil yang selalu aku beli diwarung sebrang rumah. Lalu ayahku semakin tampan dengan rambut putihnya yang semakin banyak dan juga kumis tebal, tapi ia tetap gagah dan aku semakin terpesona dengan ayahku.
“wusssshhhhhh” kami berempat tiup lilin itu bersamaan. Kulihat ibuku menangis, sepupuku juga. Kami berdoa bersama, menghadap fotoku ditengah perapian. Ulang tahunku  yang ke 7 dan tepat kepergianku selama 4 tahun. Aku masih ada bedanya tak terlihat, aku  hidup bersama keluargaku, selalu berlari seperti anak kecil masih jahil seperti dulu. Kulihat abangku, berdoa tertunduk dan aku dengar, katanya
“selamat ulang tahun adik mungil, aku merindukanmu, pasti sudah besar dan cantik, salam untuk kakek dan nenek ya, aku percaya kamu disurga dam terimakasih cubitan pipinya pagi hari, aku melihatmu”
Aku senyum, aku tahu. aku tertawa sambil cium pipi abangku, aku pergi ya abang.

Sejak awal aku sudah bilang terkadang ada hal yang tak bisa dilihat oleh mata, dan kalian harus percaya. aku percaya karena percaya  itu aku. 

CorneliusMengerti

Entah harus bersikap apa kali ini. Tuhan selalu  tak pernah beri penjelasan mengenai pemberiannya, untuk yang pertama kali, kedua bahkan kali ini yang ketiga. masih saja berkutat dengan ujung benang yang sampe sekarang tak temukan jarum bolong. Ingin sekali aku coba bicara pada Tuhan kalau aku ini tidak sekuat seperti biasanya, tak bisa selalu kuandalkan senyum dan gelak tawa seperti spongebob dengan cekikik atau Patrick yang anggap segala buruk itu jadi baik. Radarku sudah semakin lemah, tak pandai terima takdir mungkin kali ini. Lapang dadapun tampaknya sudah tak didengar oleh akal warasku, hanya terima murka tentang takdir atau kebodohanku semacamya.
Selamat pagi Alam. Selalu kuucapkan terimakasih kalau sampai saat ini aku masih sadar kalau pagi itu matahari dan malam itu bulan. kuning itu terang dan hitam itu gelap. warasku masih terima itu. Kadang aku keluhkan langit kenapa tidak secerah hari ini, aku cinta mereka yang pagi hari bicara kamu masih punya akal. Masih seputar kekesalanku pada alam. maaf barusan aku bilang cinta dan kemudian aku murka. memang itu keadaannya. Labil, klise tak tahulah itu. entah fatamorgana atau konotasi, hidupku sampai sekarang tak mengerti. apa itu adil, aku dibawah terus rasanya. sampai sekarang akar tak mengenal atas.
Cornelius tak sangka kalau gadis itu jadi sedikit gila. didengarnya cerita  mengenai lamunan pagi dibalkon bantu fikir. baru saja dia dengar kalau burung minta sayapnya jadi jemari. ketika di tanya mengapa mereka jawab mereka lelah terbang, mereka iri pada gadis itu yang jelas tahu jemari. lalu sigadis berjalan, sekitar entahlah sebisanya katanya. lalu gadis itu temui hantu kaus kaki, bertanya kenapa temui mati, hantunya jawab dia kelelahan. lalu temui lagi kakek janggut merah, ia sedang berjalan sempoyongan cari tempat teduh, didengar katanya ia juga kelelahan. Cornelius hanya mengangguk. Cornelius mengerti.