Kamis, 27 Juni 2013

CorneliusMengerti

Entah harus bersikap apa kali ini. Tuhan selalu  tak pernah beri penjelasan mengenai pemberiannya, untuk yang pertama kali, kedua bahkan kali ini yang ketiga. masih saja berkutat dengan ujung benang yang sampe sekarang tak temukan jarum bolong. Ingin sekali aku coba bicara pada Tuhan kalau aku ini tidak sekuat seperti biasanya, tak bisa selalu kuandalkan senyum dan gelak tawa seperti spongebob dengan cekikik atau Patrick yang anggap segala buruk itu jadi baik. Radarku sudah semakin lemah, tak pandai terima takdir mungkin kali ini. Lapang dadapun tampaknya sudah tak didengar oleh akal warasku, hanya terima murka tentang takdir atau kebodohanku semacamya.
Selamat pagi Alam. Selalu kuucapkan terimakasih kalau sampai saat ini aku masih sadar kalau pagi itu matahari dan malam itu bulan. kuning itu terang dan hitam itu gelap. warasku masih terima itu. Kadang aku keluhkan langit kenapa tidak secerah hari ini, aku cinta mereka yang pagi hari bicara kamu masih punya akal. Masih seputar kekesalanku pada alam. maaf barusan aku bilang cinta dan kemudian aku murka. memang itu keadaannya. Labil, klise tak tahulah itu. entah fatamorgana atau konotasi, hidupku sampai sekarang tak mengerti. apa itu adil, aku dibawah terus rasanya. sampai sekarang akar tak mengenal atas.
Cornelius tak sangka kalau gadis itu jadi sedikit gila. didengarnya cerita  mengenai lamunan pagi dibalkon bantu fikir. baru saja dia dengar kalau burung minta sayapnya jadi jemari. ketika di tanya mengapa mereka jawab mereka lelah terbang, mereka iri pada gadis itu yang jelas tahu jemari. lalu sigadis berjalan, sekitar entahlah sebisanya katanya. lalu gadis itu temui hantu kaus kaki, bertanya kenapa temui mati, hantunya jawab dia kelelahan. lalu temui lagi kakek janggut merah, ia sedang berjalan sempoyongan cari tempat teduh, didengar katanya ia juga kelelahan. Cornelius hanya mengangguk. Cornelius mengerti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar