Entah harus bersikap apa kali ini. Tuhan
selalu tak pernah beri penjelasan
mengenai pemberiannya, untuk yang pertama kali, kedua bahkan kali ini yang
ketiga. masih saja berkutat dengan ujung benang yang sampe sekarang tak temukan
jarum bolong. Ingin sekali aku coba bicara pada Tuhan kalau aku ini tidak
sekuat seperti biasanya, tak bisa selalu kuandalkan senyum dan gelak tawa
seperti spongebob dengan cekikik atau Patrick yang anggap segala buruk itu jadi
baik. Radarku sudah semakin lemah, tak pandai terima takdir mungkin kali ini.
Lapang dadapun tampaknya sudah tak didengar oleh akal warasku, hanya terima
murka tentang takdir atau kebodohanku semacamya.
Selamat pagi Alam. Selalu kuucapkan
terimakasih kalau sampai saat ini aku masih sadar kalau pagi itu matahari dan
malam itu bulan. kuning itu terang dan hitam itu gelap. warasku masih terima
itu. Kadang aku keluhkan langit kenapa tidak secerah hari ini, aku cinta mereka
yang pagi hari bicara kamu masih punya akal. Masih seputar kekesalanku pada
alam. maaf barusan aku bilang cinta dan kemudian aku murka. memang itu
keadaannya. Labil, klise tak tahulah itu. entah fatamorgana atau konotasi,
hidupku sampai sekarang tak mengerti. apa itu adil, aku dibawah terus rasanya. sampai
sekarang akar tak mengenal atas.
Cornelius tak sangka kalau gadis itu jadi
sedikit gila. didengarnya cerita mengenai
lamunan pagi dibalkon bantu fikir. baru saja dia dengar kalau burung minta
sayapnya jadi jemari. ketika di tanya mengapa mereka jawab mereka lelah
terbang, mereka iri pada gadis itu yang jelas tahu jemari. lalu sigadis berjalan,
sekitar entahlah sebisanya katanya. lalu gadis itu temui hantu kaus kaki,
bertanya kenapa temui mati, hantunya jawab dia kelelahan. lalu temui lagi kakek
janggut merah, ia sedang berjalan sempoyongan cari tempat teduh, didengar
katanya ia juga kelelahan. Cornelius hanya mengangguk. Cornelius mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar