Minggu, 24 Februari 2013

Dasar Sabtu Malam

Malam- malam jalan kesana
Sorot lampu kelap- kelip
sesak, kaya semut kelihatannya
Ramai kaya dipasar, tapi bukan pasar
hahahahhihihihi
Dasar Sabtu malam

Padat merayap, tadinya sepi padahal
Merah, kuning, hijau, silau
Paha ayam, dada kalkun berserakan
Bisik2 mendengung keras dipendengaran
Berisik sekali, bising
Dasar Sabtu malam

Bandung kapan sepi?
Beriak selalu penuh makhluk
cari sepi dimana
kehutan sana, temani pohon
gara2 Sabtu malam

Bandung hidup
Bandung punya nadi, kami nadinya

Panca Indra


Coba dengar
Fneuhjghffrugbsrjkghvfxvb
Percuma, telingaku masih saja kaku
Kulihat bibirmu bicara panjang lebar
Soal segitiga, jajar genjang, lingkaran
Tak jauh gelagatmu bicara
Aku coba dengar ko

Coba dengar lagi
Ngiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnng
Itu yang kudengar
Sepertinya sekarang mulai bicara tentang kubus, atau mungkin balok, atau bisa juga soal kerucut
Sudahlah menyerah sana
Baik, aku masih dengar ko, masis coba dengar

Mau dengar lagi
(hening)
Kamu tidak bicara lagi ya
Terlalu hening
Biasanya kudengar langit menggerutu
Kucoba benar mendengar

“aku dengar dari tadi, soal kubus, segitiga, balok dan segalanya
Kala telingaku dengung, hati ini masih coba jadi pengganti telinga
Gerutu langit diatas sana
Cornelius yang masih murka tentang panca indraku hehe
Maaf
Untuk yang baik yang dengar
Untuk yang mengerti panca indraku
Maaf, ternyata masih saja sulit
Indraku masih tak bisa kulampaui"

a glass of letter



Rabu, 06 Februari 2013

Kisah Sepupu Kecil II


Hari ini aku, adik dan ibuku memutuskan kembali ke Rumah Sakit. Kami dapat kabar kalau sekarang sepupuku sudah bisa diajak bicara. Sekalian kami igin lihat perkembangannya, kami juga membawakan sedikit makanan untuk om dan tanteku yang sudah seminggu ini tidak pulang kerumahnya. Pukul 15.30 WIB kijang biruku melaju kedaerah Sukajadi. Hari ini bandung diguyur hujan seharian, untungnya jalanan tidak begitu macet jadi aku bisa sampai lebih cepat.

Pukul 16.30 WIB kami sampai. Hari ini Rumah Sakit tidak begitu ramai, mungkin karena hujan mereka enggan keluar rumah untuk jenguk pasien. Sepupuku  kini dirawat diruang NCCU, bukan di ICU lagi., Letaknya lumayan jauh dari pintu masuk utama.  Butuh sekitar 10 menit untuk sampai keruangan itu. Tak lama, aku temukan tanteku yang sedang mengobrol dengan tamunya. Aku hanya salam dan kemudian duduk membiarkan tanteku melanjutkna pembicaraannya. Jadwal besuk hari itu dari pukul 16.00 – 17.30 WIB, masih banyak waktu. Ibuku masuk pertama.

Dipikiranku hanya terpikir bagaimana aku mulai pembicaraan, apa aku nangis nanti? Aku ini kan melankolis. Masih adakah alat pendeteksi denyut nadi? Aroma obat2 medik seperti di ICU. Ahhhh rumit. Tak lama omku keluar, lalu dia beri isyarat kalau giliranku masuk. Disana hanya ada sekitar 2 pasien, ditambah ada beberapa suster yang menunggui setiap ruangan sekitar 2 orang. Rungan NCCU didominasi oleh warna hijau daun, dan juga warna putih krem dari berbagai macam peralatan medis yang disimpan disana. Tak jauh dari pintu masuk kutemukan ruangan sepupuku. Kutemui sepupuku yang sedang berbaring sambil bicara dengan ibuku. Dengan ragu aku sapa sepupuku

“hai , ingat aku tidak?” sapaku, sambil kubiaran telapakku sentuh kulit kakinya
Dia hanya bengong melihat aku yang mungkin baru hari ini dilihatnya

“sebentar yaa sebentar” sambil melambaikan tangan dia memintaku untuk menunggu.
Kulihat dia seperti kelelahan dan menahan sakit. Matanya kadang terpejam dan kadang tidak. Aku tidak mengerti apa isyarat itu. Tak lama

“kamu siapa? “ tanyanya. Jujur saja ada yang lumer,  entah kenapa ada kekecewaan ketika dia juga tidak ingant aku sama sekali. Aku coba mengerti, bukan aku saja yang tidak diingatnya.

“ini teh vaya, ingat tidak?” ibuku bertanya

“iya ini aku, teeh vaya”
Sepupuku hanya menggeleng kepalanya.

“kalian sama? “ tanya sepupuku dengan polosnya .

“iya kita sama, teeh vaya ini ananya uwa dek”

Gadis mungil ini hanya menatapku dan mengangguk, mungkin ia coba ingat2 siapa aku ini. Sambil tersenyum ia tiba2 berkata.

“ ih lucu, kamu cantik sekali” dengan polos gadis mungil dihadapanku sambil tersenyum.

gadis yang sedang terbaring tak berdaya seperti ini sedang coba mengingatku dan sempat2nya dia bicara seperti itu.

“terimakasih ya” jawabku
tak lama sepupuku bicara lagi
“boleh pegang tangan? “ pintanya
Kuberikan tangan kananku supaya digenggamnya. Entah kenapa erat sekali, dan sepertinya tangannya bicara padaku
“kok dingin sih? Yang ini engga” sambil memindahkan tangannya ketangan ibuku

“iya diluar hujan, jadi aku kedinginan”

Dia hanya mengangguk. Lucu sekali, polos seperti aslinya. Kudengar cerita kalau dia sekarang suka jahili para suster dan kedua orang tuanya. Terakhir kali kejahilanya dengan berpura2 pingsan sampai para suster, om dan tanteku kaget bukan main. Dan tiba2 dia bangun sambil tertawa dan bicara kalau dia bohong. Sempat2nya dia seperti itu.

Entah dia kelelahan atau ngantuk, berulang kali dia selalu memejamkan mata dan diam seperti oranng tidur. Lalau beberapa menit kemudian dia bicarara kembali dengan kami dan para suster.
Kali ini dia tatap aku dan ibuku, sambil tersenyum seolah ingin bicara sesuatu.

“maafin aku ya, maafin aku”. Wajahnya begitu memelas, aku bisa mengerti. Dari matanya kulihat ia menangis

“maaf buat apa ade” kata ibuku

“iya gapapa de” sahutku

“maafin aku yaah maafin”

suasanya diruangan terasa berbeda, semacam terharu dan takut ketika sepupuku bicara semacam itu. Tak betah rasanya berdiam lama disana, bukan karena aku tak suka bertemu dengan sepupuku tapi karena memang jujur saja aku ingin menangis diluar.

“ de aku keluar dulu ya, cepet sembuh nanti kita main bareng lagi. Dadah”

kulambaikan tangan sambil bergegas keluar kamar
Dia hanya mengangguk dan tersenyum

Tuhan terimakasih, aku masih bisa bicara dengannya. Besok aku datang lagi, bicara dan coba ingat aku ya dek. 

Kisah Sepupu Kecil I


Sejak dulu aku tak begitu suka rumah sakit, aroma obat, gesekan roda dengan lantai yang membawa pasien jadi pemandangan kurang mengenakan buatku. Akhir2 ini kerjaanku hanya bulak balik kunjungi rumah sakit. Bukan aku yang  terbaring tentunya. Kalo bukan ada hubungannya dengan keluargaku mungkin tidak ingin kusempatkan bercengkrama dengan tempat itu. 

Hari ini  aku dan keluargaku memutuskan jenguk sepupu kecilku yang terbaring di RS. Sudah 3 hari ini dia terbaring tak sadarkan diri. Kudengar katanya pembuluh darah diotaknya pecah, bisa dibilang dia koma setelah serangan yang membuat otaknya tidak berfungsi secara normal kembali. Kupikir penyakit semacam itu hanya ada ditelevisi saja, ternyata kehidupan nyatapun memang ada. Sepupuku baru berusia 10 tahun kurang lebih. Anak pintar, banyak bicara dan juga lincah. Aku masih ingat beberapa minggu yang lagu dia baru saja kunjungi aku dan keluargaku dirumah, dan kini aku yang temui dia. Bukan berkunjung karena ingin silaturahmi seperti biasanya, tapi karena ingin tau bagaimana keadaanya dan mendoakan kalau Tuhan akan selalu bersamanya.

Pukul 16.00 aku tiba di RS, ah selalu saja penuh orang. Para suster dan dokter lalu lalang kesana kemari. Aroma obat2an medis mulai kucium yaks. Mulai kunaiki tangga menuju lantai 2. ICU, ya aku datang keruang ICU. Tempat dimana2 mereka yang memerlukan perawatan intensif karena penyakitnya yang sudah gawat. Akhirnya kutemui om dan tanteku, sudah  beberapa hari mereka setia tunggui sepupu kecilku. Kulihat badan mereka kurus sekali, kantung mata sudah mulai muncul dan juga mata yang tunjukan kalau mereka lelah dan khawatir.

“bagaimana keadaannya”? tanya ibuku

“alhamdullilah hari ini sudah sadar, tapi dia tidak ingat siapapun” jawab tanteku.

Aku sontak kaget, dengan kata lain sepupuku amnesia.

“kata dokter itu perkembangan yang pesat tapinya, memang proses awal seperti itu tapi nanti akan kembali normal doakan saja” lanjut tanteku
Kulihat tanteku jauh lebih tenang dari hari pertama aku lihat, mungkin karena sepupuku sudah sadarpun merupakan kabar yang amat sangat baik untuknya. Dengan semangat tanteku bercerita saat pertamakalinya dia melihat anaknya sadarkan diri.

Pukul 17.00 tepat. Jadwal jenguk pasien sudah mulai. Aku diajakn untuk lihat bagaimana keadaan sepupuku. Jujur saja berat, naluriku yang tidak begitu suka rumahsakit dipaksa masuk kesebuah ruangan bernama ICU. Mau bagaimana lagi, kalau bukan karena kdeluarga, mungkin aku lebih pilih naluriku. Aku mulai berjalan menuju pintu utama ICU bersama ayah, ibu, adik dan omku. Peraturan disana menyebutkan tak boleh penjenguk masuk melebihi 2 orang. Kutunggu giliranku didepan gerbang masuk bersama yang lain. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, aneh. Tak lama adiku keluar, giliranku. 1,2,3…….10 kuhitung langkah menuju gerbang utama ruangan sepupuku. Haaaahh. Kuganti pakaianku dengan baju khusus. Modelnya seperti pakaian para dokter yang akan melalukan operasi. Perlahan kudekati pintu besar didepanku.

“wusssshhhhhhhh”
 AC berhembus menepuk wajahku, aroma obat2an medis disini sangat menyengat tusuk lubang hidungku. Kakiku berjalan mulai telusuri koridor, satu persatu kupandangi ruangan kaca transparan dihadadapanku, cari ruangan utama sepupuku. Tidak bisa kujelaskan bagaimana ruangan ini begitu menyeramkan. Imajinasiku bicara kalau disini manusia jadi terlihat seperti robot. Mereka yang tidak sadarkan diri, lalu selang yang ditempel disekujur tubuh, mulut mereka yang diberikan oksigen, infuse yang tertempel dilengan merekamereka, bunyi mesin pendeteksi denyut jantung yang ramai kudengar membuat bulu kudukku merinding.

“Tuhan, betapa beruntungnya aku. Sudah besar begini belum pernah aku rasakan terbaring di rumah sakit  sambil ditusuk jarum sedemikian lama, atau nafas dibantu oksigen” batinku
Kupercepat langkahku mencari ruangan sepupuku, dan akhirnya kutemukan. Gadis kecil yang kucari daritadi. Perlahan aku masuk, dan omku disana juga. Ingin rasanya aku menangis lihat keadaan sepupuku. Berbda sekali dengan beberapa minggu yang lalu. Kurus, pucat, dan botak. Rambutnya dipangkas sampai habis. Hanya ada perban disebelah tengkorak kirinya. Aku tahu dibalik perban itu, hanya ada kulit dan otak tanpa tempurung. Sama seperti rungan lainnya, sekeliling dipenuhi peralatn medis, disudut kanan kulihat  mesin yang memastikan kalau masih ada denyut jantung hidup ditubuhnya Hidungnya tertempel selang oksigen, tangan kirinya diberikan infuse.. Pandanganku kembali tertuju pada gadis didepanku. Matanya terpejam dan kulihat dia menangis. Tak tahan aku lihat pemandangan ini. Bisa kubayangkan mungkin dia rasakan sakit, ingin bicara tapi tak tahu bagaimana caranya. Disebelahku omku hanya memegang erat tangan gadis itu sambil membaca beberapa ayat Al-Quran dan kulihat sepertinya sepupuku mendengar. Dengan mata masih terpejam dia hanya bisa bicara lewat air matanya yang semakin deras kulihat. Tak tahan aku berlama- lama disini, tak tega lihat sepupuku yang menangis tanpa sadarkan diri. Kuputuskan segera keluar dari ruangan ICU itu.

lekas sembuh dik, aku dan keluarga tetap dengan doa dan tetap selalu bicara pada Tuhan"