Rabu, 30 Januari 2013

Kisah Para Sapi (Agen Satu Atap)


Hari itu, berat sekali kaki kerempeng ini. Angkat kaki dari rumah paling aman sejagat raya. Kantung hitam besar melakat dipunggung, dan tas kuning jumbo  dilengan kanan.

“2 minggu ya? Tahan apa aku?” bantinku

Masih saja hati ini berat, padahal mobil kijang biruku sudah melaju dikeramaian kota bandung, sambangi satu persatu mereka yang jadi agen satu atapku. Aku kenal mereka, jauh sebelum aku masuk perkumpulan sapi ini. Tapii…….. kau tahu maksudku

Kijangbiruku melaju arah atas bandung, lebih tepatnya lembang. Ramai sekali. Jelas saja,kuputuskan pergi minggu pagi tentu lembang ramai. Pohon, dan tanaman julang sana- sani. Tebing curam dan perkebunan berserakan sepanjang jalan. Obat hati sekali.

Akhirnya ‘selamat datang di Desa Cibodas’

Desa far far away, dikaki gunung manglayang, jauh dari keramaian, tapi pemandangan tak berbayar. Tuhan, kau tidak mengecewakan. Satu persatu kuturunkan barang, mulai dari tas hitam gendong, tas jumbo kuning dan sepatu boots. Macam mudik lebaran pikirku. Tak jauh dari tempat mobilku parkir, kami semua dekati gang mungil penuh rerumputan, disampingnya ada semacam kebun waluh rambat teduh. Tak jauh, aku temukan penginapan warna hijau kerdil macam kurcaci.

“salam bersahabat, tolong jangan berhantu ya, aku penakut hehe” doaku

Malam senin bersama agen satu atap. Uno, remi kawan tambahan kami. Cekakak cekikik. Sayangnya ujur saja tak pandai aku bergaul. Lebih menyenangkan sendirian. Aku lebih tertarik bicara dengan batinku sebagai lawan, daripada mereka yang mungkin aku kenal tapi tidak bisa aku ajak bicara. Makin saja aku ingin rumah, andai rumahku hanya sebatas jenagkal.

“Tuhan, tahan apa aku?” masih pikirku

Senin, selasa, rabu, kamis,jumat,sabtu, minggu,senin,selasa,rabu,kamis,jumat,sabtu Tuhaan masih lama. Diotakku melayang- layang. Andai mereka yang selalu aku bilang, mungkin bukan rumah yang aku rindukan.  Rutinitasku dipenuhi sebagai pencari ilmu di peternakan, statusku hari ini dan 2 minggu kedepan sebagai mahasiswa magang. Keliling peternakan sudah jadi kewajibanku, minta ajari soal tetek bengek soal ternak, cara masuk tangan dalam rectum sapi, dijilati pedet mungil menggemaskan, angkut rumput, sapu rumput, ikat susu yang dikemas, bahkan ditendang, dikejar dan dieeki pun kulayani. Yaah nasib mahasiswa peternakan, rela jadi kuli dan bersentuhan dengan hewan ternak. Nikmati saja

Kalau ditanya apakah aku cinta kegiatan itu, sungguh aku tak bisa bayangkan betapa aku suka jadi mahasiswa peternakan. Kalau disuruh pilih antara bermalas2an dirumah dan memandikan ternak. Aku lebih memilih option 2 untuk 2 minggu kedepan, hehe. Alasannya mungkin kalian tahu, kalau diam dirumah tentu saja aku lebih banyak dian karena aku belum temukan titik nyaman bersama agen baruku.

Hmmm kuhitung  masih sekitar 6 hari lagi. Akhirnya 7 hari fase magang sudah aku libas, untungnya aku bisa tahan, maksudnya tahan dengan rutinitas kandang. Kalau adaptasi dengan rekan satu atap jujur saja sulit sekali. Tapi minggu ini lebih baik, aku sudah mulai ikut nimbrung ketika mereka semua sedang bergossip, ikut dengar curhatan, main kartu uno dan remi hingga larut, dan sampai akhirnya aku bisa jadi bagian dari mereka. menyenangkan ternyata bisa berbaur. Tidak perlu banyak diam seperti awal2, bicara macam kompor meleduk juga bisa aku lakukan. Dan akhirnya aku tahu watak dan kebiasaan masing2. Dari mulai tukang kentut, mandi lama, si wanita boros, si pemalas, si pintar masak, si penunggu musola, dll. Oh ini ya sisi keindahan magang, temukan keluarga baru. Sampai akhirnya magang akan berakhir 2 hari lagi, dan jujur saja ada yang  ganjal. Bisik ingin pulang dan rindu rumah sejenak jungkir balik. Sayang sekali aku harus pulang, menyesal kalau aku selalu ingin rumah kalau ternyata magang juga sama menyenangkannya dengan tinggal rumah, dan akhirnya bisa kubilang dilemma cibodas dan antapani.

H-1, besok aku kembali ya, kok enggan rasanya. Benar sekali apa kata seniorku “ awal saja ingin pulang dan malasnya tingkat badai, tapi saat akhir kalian pasti berharap magang diperpanjang” dan ya memang, itu yang aku rasakan.

Bakar2 jadi acara puncak, ibu yang punya rumah beserta orang2 dari peternakan yang kami undang. Gelar tikar diruang TV dan saling maaf2 malam itu jadi keromantisan sendiri. Oh ya ada juga senior tingkat atas sekali yang diundang, diantaranya ada kang domi dan kang wahyu yang sejak lama aku kenal. Gelak tawa semakin jadi saja ada mereka berdua, yah memang begitulah mereka. 2 sejoli mungil yang hobinya kocok perut orang sekitar. Habis makan kami lanjutkan dengan permainan kartu hingga larut malam. Semakin saja aku tidak ingin pulang, andai kebersamaan seperti ini dari awal magang. Mungkin aku tidak segoyah ini memikirkan dilemma lokasi hmmmm.

Dan akhirnya sabtu pagi, come home. Baju kemeja, celana jeans, jas alma, tema pakaian hari itu. Biasanya aku gunakan werpek, dan sepatu boot untuk kunjungan ke peternakan. Kali ini ceritanya kami perpisahan dengan orang2 kandang. Ah mengharukan, dan tentunya juga perpisahan dengan mereka agen satu atapku. gedor pintu dini hari, masak pagi hari, cuci piring gunakan jasa piket, jalan pawai menuju peternakan, makan malam bersama, uno dan gapleh larut malam, dan tertawa terbahak bersama tinggal jadi bagian cerita hehe.

jujur saja tidak sebegitu dekatnya aku dan kalian sebelumnya. Aku yang banyak diam dan kalian juga. Berbaur saling beri cerita dan kesan masing2. 2 minggu bukan waktu yang sebentar dan mudah bagi aku yang terkadang sulit bergaul cari mereka yang buat aku bicara. Tidak menyesal aku jadi bagian kalian, kembali kebandung aku bisa simpan memori tentang aku dan agen satu atap. Kalau ditanya apakah aku ingin lagi satu atap dengan kalian. Tentu saja aku jawab “YA” 

agen satu atap : adit,rika,ferdi,dian,kang fajar, bita, rido,anis,reka,achi





Tidak ada komentar:

Posting Komentar