Sekiranya waktu itu aku ikut bersama mereka. Mungkin aku tidak kesepian seperti ini. Makan hanya ditemani sendok, garpu, dan piring. Tidur bersama remang2 lampu dan. Ditemani percapakan televisi. Hidup macam apa!
Kadang ingin aku menyusul mereka dengan caraku, tapi terlalu jauh. Tidak ada kendaraan untuk kesana. Satu2nya cara aku susul mereka selalu saja gagal, sudah berapa kali aku coba tetap saja aku diam ditempat. Haah lagipula mereka janji untuk kembali. Sabar saja menunggu.
Aku selalu berfikir aku manusia berbeda. Tidak punya tujuan hidup, hidup untuk diriku sendiri. Orang lain hidup untuk orang lain. Mereka punya warna, yang semakin hari semakin cerah dan memenuhi kanvas mereka masing2. Penuh cerita keluarga sampai2 butuh kanvas lain untuk menopangnya. Sementara aku, 1 kanvaspun masih putih.
Banyak keluhan dalam otakku, kenapa hidupku sial sekali? Kemana mereka? Jahat sekali tidak peduli ! Kenapa tidak mengajak aku?
malam itu, kuputuskan untuk mencari udara segar. Sudah belasan taun kerinduanku diluapkan dengan bicara pada embun. Tiba aku disebuah perempatan. Sepi sekali. Kulirik jam ditanganku, jelas saja sepi ini pukul 12.00 malam . Kubelokan mobilku kearah kanan, ada sebuah kedai kecil. Perutku lapar. Kuputuskan untuk membeli sedikit cemilan untuk malam ini. Kedainya kecil, bermodalkan gerobak yang dihias dengan menggunakan cat yang dibuat semenarik mungkin dan kursi yang tidak lebih hanya muat sekitar 10 sampai 15 orang. Diatasnya diberi penutup kain terpal berwarna coklat kehitaman, disudut terpal ditempati penerangan lampu seadanya yang hasil colok sana colok sini. Semerawut. Hanya ada sekitar 1 atau 2 pengunjung. Aku duduk dipojokan, dekat dengan parkir mobilku. Seorang wanita muda menghampiri
"Mau pesan apa teeh??" Sapanya
Kulihat sekilas, cantik sekali. Kalau dilihat dari tinggi dan perawakannya, sepertinya dia 3 tahun lebih tua diatasku. Kulitnya putih, rambut hitam sebahu, dan matanya sayu terlihat bahwa dia ngantuk dan kelelahan.
" Nasi goreng 1 ya teeh, jangan pakai pedas" sahutku
Dia mengangguk. Beberapa menit kemudian pesananku datang. Gadis itu tidak terlalu banyak bicara sepertinya, dia teetap sibuk dengan pesanan pelanggan lain, kulihat tanggannya lihai sekali mengayun katel dan spatula.
Kenapa dia sendirian pikirku, kasihan sekali. Sepertinya hanya 1 orang pegawai disini. Tak kulihat pegawai lain lalu lalang selain gadis itu. Pesanan terakhir sudah beres, gadis itu diam sambil membaca majalah. Makananku sudah habis, tapi aku berniat membungkus 1 nasi goreng lagi untuk sarapanku nanti pagi. Kuhampiri gadis itu.
"Teeh, pesan satu lagi ya dibungkus" pintaku
Gadis itu mengangguk sekali lagi, dan kemudian kedua kalinya kudengar wanita itu bicara
" Sendirian saja teeh??"
" Iya hehe, teteh juga? Pegawai lain kemana?" Aku bertanya
" Tidak ada, saya sendirian jualan disini" jawabnya, terdengar gusar.
" Lah, kok berani. Malam begini sendirian berjualan. Ga takut ada sesuatu memang? Apalagi teteh wanita"
" Takut apa? Teteh sendiri kenapa sendirian? Ga takut memang? " Sambil tersenyum
Jarang2 aku berbicara dengan orang lain seperti ini dan entah kenapa tiba2 saja bibirku menjawab tanpa aku kendalikan sendiri
" Saya memang selalu sendirian teeh"
" Keluarga? Atau teman atau pacar?" Tanyanya
"Tidak punya, hehe. Tak tahu mereka kemana"
Wajah gadis itu itu berubah, sepertinya dia merasa bersalah bertanya seperti itu padaku.
" Kok sama ya? Saya juga sendirian, tidak punya siapa2"
Aku kaget, mimik gadis itu benar2 berubahh
" Memangnya pada kemana teeh?" Tanyaku penasaran
" Pada pergi , saya ditinggal"
Sama percis denganku, ditinggal mereka2 yang benar2 dicintai dan belum kembali. Rasanya aku tidak sendirian. Percakapan kami berlanjut
" Rumah teteh dimana ?"
" Disana, masuk dalam gang kecil itu. Tidak jauh kok"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar