Sabtu, 08 Desember 2012

baju putih

kupejamkan mata, kali ini doaku. aku mohon kabulkan

perlahan muncul
kaki kecil ini, tangan mungil ini, dan otak ini  akan bawa aku kemana? jadi apa?
aku terlahir bukan dari keluarga yang bisa makan tiap hari dengan cukup. tidak juga dari rumah yang beralaskan tehel, lampu, gorden berjumbai mewah dan pagar tinggi menjulang didepan rumah. gubuk reyot disudut desa pernah jadi saksi kalau aku pernah tinggal didunia ini dalam keadaan kurang beruntung. aku dan ibuku, kami berdua saling menopagh hidup ini. aku dan ibuku yang hidupi lambung ini. ketika aku lihat gadis seumuranku bisa berlari ditaman dan bermain dengan kaki kecil ini, serta otak mereka ini sibuk menimba ilmu, bisa dibilang aku iri . kaki kecil yang aku miliki, aku gunakan untuk mencari  sejumlah koin kecil demi memberi asupan gizi lambungku dan lambung ibuku, lalu otak ini terus bernafas cari jalan supaya aku tetap hidup.
hidup dengan ibu yang mungkin tidak sesehat dulu merupakan beban berat bagi aku yang saat itu masih berubur 6 tahun. mungkin kalian bertanya2 kemanakah ayahku yang seharusnya memegang tanggungjawab ini? jawabanku aku saja tidak tahu dimana dan bahkan wujudnya saja aku tidak tahu. yang mungkin melekat diotakku hanyalah segambar pria tinggi besar, berkumis dan berwibawa yang sering aku lihat dijalanan ketika mengantar anak2 seusiaku kesekolahnya. mungkin ayahku seperti itu.

sejak lama ibuku sakit. tak tahu apa itu penyakitnya. kami yang sulit mencari sesuap nasi seperti ini hanya mengandalkan obat2an dari warung yang mungkin hanya sesaat membaikan, rasanya semakin berat saja bebanku ini. aku harap akan membaik seiring bergilirnya waktu, tapi nyatanya segalanya semakin buruk. untung saja aku diajari kalau aku harus mencintai Tuhan dan aku harus percaya padanya, jadi aku tidak menggerutu sebegitu hebatnya.

tidak ada perkembangan dari kesehatan ibuku. dan puncaknya hari itu entah kenapa ibuku hanya diam ditempat tidur, tanpa suara dan tanpa ada gerakan sedikitpun. sampai aku yang berusaha berteriak sekeras mungkin memanggilnya tidak dapat membuatnya terbangun. lagi2 kaki kecil ini, aku berusaha berlari menuju kebalai desa. temukan mereka yang selalu mengenakan baju putih dengan benda tanduk berbelalai dilehernya. tidak tahu siapa mereka yang jelas aku tahu mereka berulang kali bisa membuat keadaan ibuku jauh lebih baik

alat itu perlahan mulai menyentuh dada ibuku, berwarna keperakan dan sepertinya dingin. tak ada reaksi apapun dari ibuku. hanya tergeletak dengan wajah pucatnya. tak lama mereka menghampiriku, dan mencoba menggendongku dan membawaku kedepan rumah. aku menurut saja. 

"ibuku kenapa?" tanyaku
"dia baik2 saja, hanya tidur sebentar" jawabnya sambil tersenyum

hari itu, aku tahu ibuku pergi walau mereka tidak bicara padaku. aku tahu apa itu mati aku tidak sepolos yang mereka pikir. ibuku pernah bicara soal itu dan memintaku kalau aku jangan menangis dan aku lakukan itu..
"aku boleh tanya?" kataku
"boleh, kamu mau tanya apa adik kecil?" 
"kalian ini apa? pakai baju putih. malaikat ya? tapi kok gapunya yang bulat2 dikepala sih?" tanyaku penasaran
"kami ini namanya dokter dik, kamu mau jadi dokter?"
"oh dokter ya" batinku

buuu, kini aku sudah besar. maafkan aku karena dulu aku hanya bermodalkan kaki kecil ini dan kecitaanku padamu. Tuhan saja tidak tega melihatmu yang menderita. aku anggap Tuhan benar mencintaimu sampai ia membawamu ketempat yang mungkin jauh lebih indah. kalau saja ibu tahu, aku sangat merasa berdosa. kenapa ketika itu aku masih dalam wujud  anak umur 8 tahun, kenapa bukan sekarang?
lihat aku bu, aku pakai baju putih ini. dan aku punya benda berbelalai itu. aku tahu namanya ini bu, ini namanya stetoscope. aku jadi malaikat seperti mereka. maaf ya bu, aku tidak bisa menolongmu dulu. tapi aku janji, aku janji akan tolong ibu2 lainnya.
doakan ya bu, ada yang seperti dirimu dihadapanku sekarang
nyawanya ditanganku
bilang pada Tuhan tolong bantu aku
untuk selamatkan ibuku yang satu ini

(aku yang sedang berada diruang operasi  pukul 21.00 WIB)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar