Dia menunjuk gang kecil di depan kedai
" Teteh tinggal sendirian?" Tanyaku semakin penasaran
"Iya saya sendirian"
" Tidak kesepian?"
" Tentu saja kesepian teeh, hanya saja saya tidak terlalu memikirkan"
" Kok bisa sih begitu? Saya saja sampai frustasi karena sendirian seperti ini sampai kadang ingin ikut pergi juga"
Dia hanya tersenyum, sambil tetap menggoyangkan katelnya
" Saya suka bingung, saya hidup untuk apa dan untuk siapa. Manusia lain hidup untuk orang lain, mereka punya alasan. Sementara saya, sama sekali tidak punya yang namanya orang lain" lanjutku
"Dulu juga saya begitu teeh, cuma sekarang tidak. Pernah saya menggores nadi saya sampai saya nyaris mati. Tapi yang saya dapat cuma sakit teeh, menyesal, bukannya bertemu dengan mereka tapi cuma 2 hal itu yang saya bawa sampai sekarang. sepi itu cuma keadaan. Keadaan yang kita buat" ceritanya. Kulihat memang ada luka bekas goresan dilengan kirinya. Menyeramkan sekali, untung aku tidak separah itu.
"Bukan keadaan teeh maksud saya, tapi disini" aku menunjuk dada
" Sama saja. teteh mengurung diri dirumah sendiri. Sebenarnya kalau keluar teteh bisa lihat. Banyak yang tertawa diluar, lalu lalang. Kalau masalah yang disini " dia menunjuk dada
" Memang tidak akan ada yang mengganti, hanya saja coba kembali kepertanyaan kenapa teteh ingin hidup dan untuk siapa. Hidup bukan cuma untuk keluarga, hidup untuk teteh sendiri juga bisa untuk orang2 seperti kita" jelasnya
" Maksudnya? Aku tidak mengerti"
"Iya, teteh bilang mereka yang lain hidup untuk orang lain. Sementara kita hidup untuk siapa? Kalau teteh merasa tidak punya orang lain, kenapa tidak memilih hidup untuk diri sendiri saja? Lebih tepatnya untuk kebahagiaan teteh"
" Tapi saya tidak bahagia teeh sendirian seperti ini, saya butuh keluarga"
" Anggap saja mereka melihat teteh, saya percaya kalau mereka yang pergi tetap ada disekitar kita, mendampingi walau kasat mata. Mendoakan walau tak terdengar, berharap walau kita tak berfikiran kesana. Keluarga tidak berarti selalu keluarga kita. Teman, tetangga juga keluarga. Dan. Teteh harus sadar tentunya ada keluarga baru di massa depan nanti. Jodoh teteh"
Aku melamun. Bijaksana sekali gadis ini. Beda denganku. Ah aku bodoh sekali. Konyol kalau aku mengeluh soal aku yang sendiri, dia saja bisa. Dan aku melupakan 1 kata itu "jodoh" masih ada harapan. Aku tidak sendirian lagi nanti.
" Nih teeh sudah beres" sahutnya sambil memberikan kantong plastik berisi nasi goreng. Dia membuyarkan lamunanku
"Berapa teeh"
"10ribu " jawabnya
" Terimakasih ya, terutama sarannya. Dan maaf membawamu ke masa lalu dan masuk dalam cerita bodohku"
" Sama2 teeh. Masih mau pergi?" Tanyanya
" Tidak, hehe"
Aku jalan, dan membuka pintu mobil. Lalu menyalakan mesin. Oh ya aku lupa tanyakan nama
" Teeh, nama teteh siapa? Barangkali saya mampir kesini lagi nanti kita ngobrol lagi " aku berteriak dalam mobil
" Nama saya lasmi teeh, kalau mau berkunjung datang saja kerumah saya takutnya saya lg ga jual akhir2 ini .. Nanti tanya saja sama tetangga, mereka nanti kasih tau rumah saya" sahutnya
" Siiipppppp" mobilku melaju
1 minggu kemudian
Aku kesepian, sejauh ini yang memang nyambung dengan pembicaraanku gadis kedai itu. Sekaligus aku juga ingin cerita dan makan nasi gorengnya. Kupacu mobil kearah jalan tempat kedai itu. Kulihat memang tidak ada gerobak dan terpalnya, mungkin Lasmi sedang tidak berjualan, atau kedainya buka nanti malam. Oh ya Aku ingat perkataannya, kalau mau bertemu kerumahnya saja. Akhirnya kuparkir mobilku disamping gang, kupilih berjalan kedalam gang karena memang hanya muat untuk sekitar 2 kendaraan bermotor. Akhirnya aku bertemu dengan ibu2, mungkin dia kenal dengan lasmi. kuhampiri ibu itu
" Permisi buuu, saya mau tanya" sapaku
" Oh iya de ada apa?"
" Hmm kalau rumah lasmi yang mana ya bu? Gadis yang berjualan nasi goreng didepan gang itu"
"Ohh rumahnya, itu deeee" sambil menunjuk rumah bercat biru 3 blok dari tempatku berdiri
" Oh iya terimakasih bu". Aku berjalan menuju rumah itu, tak lama
" Eh de sebentar" ibu itu menghampiri
" Ade mau ketemu lasmi? Ade keluarganya lasmi?" Tanya ibu
" Iya bu, Oh bukan saya temannya, kenapa ya bu?" Tanyaku heran
" Ohh ade memang tidak tahu ya? Lasmi sudah meninggal sekitar 15 hari yang lalu"
Aku sontak kaget, meninggal? 15 hari yang lalu?
Lalu malam itu? Aku bicara? Aku bertemu?
Bulu kudukku merinding
Pantas saja ada yang aneh.
Raut muka, luka, dan perkataany seolah2 dia memang sudah pergi
"Terimakasih bu" sahutku, dengan langkah gontai aku jalan menuju mobil. Kupejamkan mata menenangkan pikiranku yang sedang kacau. Haahh sudahlah dia baik, hanya menolong.
kunyalakan mesin mobil, dan melaju kerumah.
" untuk keluargaku, maaf karena aku sudah mengutuk kalian dengan perkataan buruk. Aku hanya berkeluh kesah dan iri dengan kalian semua. Aku iri karena rasanya Tuhan tidak adil padaku. Kalian bersama2, smentara aku sendirian disini dan berjuang melawan kesepian. Lalu untuk teman baruku lasmi, terimakasih untuk nasi goreng dan nasihatnya. Aku sadar betapa beruntungnya aku ini. Tak pantas untuk aku yang masih hidup ini berlagak kalau bertemu kematian itu jalan keluar yang baik. Maafkan aku ya
Oh ya maaf juga, aku gajadi pergi sekarang. Nanti aja, kalau sudah giliranku Kita bertemu
Di surga :) "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar